Tiga Hal yang Sering Mengagetkan Tertanggung pada Saat Penyelesaian Klaim Asuransi

Saat terjadi klaim adalah saat dimana ujian sesungguhnya dari suatu perusahaan asuransi. Disinilah pembuktian janji yang telah disampaikan di awal proses penutupan asuransi.  Pada proses awal, asuransi adalah proses "memberikan janji" bahwa jika terjadi kerugian yang dialami nasabah (istilah di asuransi adalah Tertanggung), perusahaan asuransi akan memberikan ganti rugi sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan yang tercantum di dalam polis.

Penyerahan pembayaran klaim asuransi kapal sebesar Rp 13,4 milyar dari TRIPA kepada PT Abadi Lestari Sakti (www.tripakarta.co.id)

Tidak seperti pada saat awal penutupan, ketika terjadi klaim, tidak jarang Tertanggung terkaget-kaget ketika disodorkan jumlah ganti rugi yang akan diterimanya karena jumlahnya dibawah ekspektasinya. Hal ini terjadi karena sebagian besar Tertanggung tidak membaca dan tidak memahami isi polis secara detail. Tugas asuransilah yang sebaiknya menjelaskan hal tersebut pada awal penutupan asuransi agar ketika terjadi klaim dan klaimnya dibayar, Tertanggung tidak mengalami kekagetan.

Berikut ini, tiga hal yang sering membuat Tertanggung terkaget-kaget ketika menerima pembayaran ganti rugi dari pihak asuransi, dalam hal ini asuransi umum (general insurance yang sebelumnya lebih dikenal dengan nama asuransi kerugian):

1.  Objek/Barang diasuransikan lebih rendah dari Nilai Sebenarnya (Under-insurance)

Dalam meng-asuransikan suatu objek, nilai atau jumlah yang diasuransikan (sum insured) harus nilai sebenarnya dari objek tersebut.  Jika seseorang meng-asuransikan objeknya dengan nilai yang lebih rendah dari nilai sebenarnya objek tersebut, akan jadi masalah jika terjadi kerugian.  Masalah ini, dikenal dengan istilah prorata under-insurance.  Mengapa akan jadi masalah jika terjadi kerugian? Ganti rugi yang diberikan perusahaan asuransi akan diperhitungkan secara proporsional, perbandingan antara nilai pertanggungan dalam polis (sum insured) dengan nilai sebenarnya dari objek tersebut pada saat terjadi klaim sehingga ganti rugi yang diterimanya akan lebih kecil dari kerugian yang dialami.

Rumus sederhananya sebagai berikut:

Supaya jelas, kita lihat contoh sebagai berikut:  
Misal, Bangungan Hotel.  Bangunan hotel tersebut dijadikan agunan ke bank.  Pihak bank mewajibkan pemilik hotel untuk meng-asuransikan.  Pinjaman ke Bank - misal - sebesar Rp 70Milyar.  Nilai riel dari bangunan hotel tersebut - berdasarkan perhitungan dari pihak appraisal - sebesar Rp 100Milyar.  Yang punya hotel - misal - mengasuransikan dengan nilai Rp 70Milyar karena pinjaman ke bank sebesar Rp 70Milyar disamping mungkin ada kecenderungan untuk mengurangi biaya premi. 
Terjadi kerugian - misal - sebesar Rp 10 Miyar.
Berapa ganti rugi yang akan diberikan dari perusahaan asuransi?

Langkah jawabannya sebagai berikut:

-  Harga pertanggungan dalam polis (sum insured):  Rp 70Milyar
-  Harga atau nilai sebenarnya dari objek tersebut:  Rp 100 Milyar
=> Terjadi under-insurance karena mengasuransikan objek lebih rendah dari harga sebenarnya, sehingga penggantian kerugian akan diperhitungankan secara proporsional antara nilai objek dalam polis dengan nilai sebenarnya dari objek tersebut.

Ganti rugi dari perusahaan asuransi:  (Rp 70M/Rp 100 M) x Rp 10M = Rp 7Milyar. 

Loh kok, ganti ruginya 'hanya' Rp 7Milyar? Iya, karena yang Rp 3Milyar ditanggung sendiri atau self-insurance sebagai akibat dari yang bersangkutan hanya mengasuransikan 70%.  Sisa 30% menjadi self-insurance atau ditanggung sendiri.

Jadi, tahap pertama yang penting ketika akan melakukan penutupan asuransi harta benda adalah memastikan kecukupan harga pertanggungan (adequacy of sum insured).  Pastikan harga/nilai yang diasuransikan sesuai dengan harga sebenarnya dari objek yang akan diasuransikan.

Ada masalah ada solusi.  Apa solusi untuk mengatasi problem under-insurance ini ? Dampak adanya under-insurance bisa di atasi dengan beberapa langkah berikut:

a.  Melekatkan Klausula "Average Relief Clause"

Secara umum, pengertian dari klausula ini adalah apabila terjadi under-insurance namun perbandingan antara nilai yang diasuransikan dengan nilai sebenarnya dari objek yang diasuransikan lebih besar atau sama dengan 85%, maka terjadinya under-insurance tersebut diabaikan (dianggap tidak terjadi under-insurance).

Contoh atau aplikasi bekerjanya klausula tersebut sebagai berikut:

 

b.   Agreed Value Basis

Under-insurance tidak berlaku bagi penutupan asuransi yang dilakukan dengan dasar agreed value. Hal ini karena kedua belah pihak telah menyepakati suatu jumlah tertentu sebagai nilai untuk objek pertanggungan, mulai dari awal sampai berakhirnya pertanggungan.

Dengan penerapan agreed value basis maka harga pertanggungan dianggap cukup sehingga tidak perlu lagi dihitung apakah sesuai dengan harga sebenarnya atau tidak.

c.   Appraisement Clause

Klausula ini bermakna apabila terjadi klaim sampai dengan nilai tertentu (proporsi tertentu, 5% atau 10% dari harga pertanggugan atau bisa juga proporsi tertentu dari nilai kerugian yang terjadi) maka tidak perlu dilakukan perhitungan kecukupan harga pertanggungan, nilai/harga pertanggungan polis dianggap mencukupi.

Misal, harga pertanggungan polis Rp 100Milyar.  Appraisement Clause-nya 5% dari harga pertanggungan. 5% dari Rp 100Milyar, berarti Rp 5 Milyar.  Terjadi kerugian Rp 4,5Milyar, maka atas kerugian ini, tidak perlu dihitung apakah harga pertanggungannya cukup atau tidak karena harga pertanggungan nya dianggap cukup sehingga ganti ruginya tetap sebesar Rp 4,5 Milyar sesuai dengan kerugian yang dialaminya (dengan syarat akan diperhitungkan dengan risiko sendiri atau deductible, jika ada).

2.  Penyusutan atau Depresiasi

Hal berikutnya yang sering menjadi dispute ketika terjadi klaim adalah adalah adanya potongan depresiasi atau penyusutan dari suatu objek yang diasuransikan yang mengalami kerugian.

Problem depresiasi terjadi untuk objek asuransi yang ditutup menggunakan polis asuransi standar. Hal ini terjadi karena memang penentuan harga dalam hal kerugian maupun cara penyelesaian dan penetapan ganti rugi nya memperhitungkan unsur depresiasi. 

Contoh polis-polis standar yang populer adalah:

  • Asuransi kebakaran --> Polis Standar Asuransi Kebakaran Indonesia (PSAKI)
  • Asuransi Kendaraan Bermotor --> Polis Asuransi Kendaraan Bermotor Indonesia (PSAKBI)

Jadi, perhatikan ketika kita akan berasuransi, jika polis nya menggunakan polis standar, mau tidak mau, penentuan harga pertangguggan dan ganti ruginya akan diperhitungkan dengan unsur depreasiasi.

Solusi untuk masalah depresiasi adalah menambahkan klausula "Reinstatement Value Clause" pada polis-polis standar.  Dilekatkannya klausula tersebut, dijamin tidak ada depresiasi.  Namun jangan salah, ada kemungkinan masih terkena pro-rata under-insurance jika harga/nilai objek yang diasuransikannya tidak menggunakan harga baru.  Perlu diperhatikan bahwa jika dilekatkan klausula ini, harga/nilai objek yang diasuransikan harus harga baru (membangun kembali) supaya terhindar dari prorata under-insurance.

3.  Risiko Sendiri atau Deductible

Risiko sendiri atau deductible adalah jumlah kerugian yang harus ditanggung oleh Tertanggung untuk setiap kejadian atas klaim yang telah disetujui.

Kita lihat asuransi kendaraan bermotor. Risiko sendiri untuk kerusakan sebagian (partial loss) kendaraan - umumnya - sebesar Rp 300 ribu untuk setiap kejadian.  Hal ini berarti, jika kerugian yang dialami Tertanggung kurang dari atau sama dengan Rp 300 ribu maka kerugian tersebut menjadi tanggungan sendiri, tidak diganti oleh asuransi.  Sebaliknya, jika lebih besar dari Rp 300 ribu maka asuransi akan mengganti kerugian tersebut dikurangi dengan Rp 300 ribu untuk setiap kejadian.

Untuk asuransi kendaraan bermotor, ada risiko sendiri atau deductible yang cukup besar yaitu risiko sendiri kehilangan kendaraaan karena pencurian.  Biasanya sebesar 10% dari nilai yang diasuransikan.  Artinya, ketika terjadi kehilangan kendaraan karena pencurian, Tertanggung akan mendapat ganti rugi sebesar 100% dari nilai yang diasuransikan dikurangi 10% dari nilai/harga yang diasuransikan atau ganti rugi yang akan didapatnya "hanya" sebesar 90% dari nilai/harga yang tercantum di dalam polis.  Misalnya, harga pertanggungan mobil di polis sebesar Rp 100 juta, mobil tersebut hilang dicuri, maka ganti rugi nya sebesar Rp 90 juta yaitu Rp 100 juta dikurangi Rp 10 juta (10% dari Rp 100 juta).  Dengan catatan, harga pertanggungan mobil dalam polis sama dengan harga pasarnya pada saat terjadi kehilangan. 

Contoh lain, asuransi kebakaran yang menggunakan Polis Standar Asuransi Kebakaran Indonesia (PSAKI).  Jaminan PSAKI adalah menjamin kerugian atau kerusakan objek pertanggungan terhadap risiko-risiko kebakaran (fire), petir (lightning), ledakan (explosion), kejatuhan pesawat terbang (aircraft) dan asap (smoke) atau lebih populer disingkat dengan FLEXAS (Fire, Lightning, Explosion, Aircraft and Smoke). Risiko sendiri terhadap risiko FLEXAS adalah NIL alias tidak ada kecuali untuk okupasi (penggunaan) sebagai berikut:

Risiko sendiri atau deductible minimal untuk okupasi (penggunaan) objek seperti di atas terhadap risiko FLEXAS - sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) - adalah  5% dari nilai kerugian yang disetujui  atau 0,1% dari total nilai pertanggungan, mana yang lebih tinggi.

Contoh berikut bisa menjelaskan bagaimana risiko sendiri atau deductible FLEXAS tersebut berlaku:

Risiko sendiri atau deductible tidak bisa dihindari oleh Tertanggung jika sudah tercantum di dalam polis.  Usaha untuk menghindari dispute-nya adalah pihak asuransi harus menyampaikan dan menjelaskan masalah deductible atau risiko sendiri ini pada saat awal penutupan asuransi sehingga kedua belah pihak aware akan adanya semacam potongan klaim ini.

Tidak hanya masalah risiko sendiri atau deductible yang harus disampaikan dan dijelaskan kepada Tertanggung pada saat awal penutupan asuransi, namun juga hal lain di atas seperti kecukupan nilai pertanggungan dan depresiasi menjadi semacam kewajiban yang harus dijelaskan oleh pihak asuransi untuk menghindari dispute ketika terjadi klaim.

No comments

Powered by Blogger.