Berbagai Jenis Kecerdasan [Kognitif (IQ), Emosional (EQ) dan Spiritual (SQ)] dan Hubungannya dengan Perilaku Organisasi - xplorealitas

www.explorealitas.com

Ad Placement

Ad Placement

Berbagai Jenis Kecerdasan [Kognitif (IQ), Emosional (EQ) dan Spiritual (SQ)] dan Hubungannya dengan Perilaku Organisasi

Pendahuluan

Orang-orang yang ada dalam suatu organisasi berasal dari berbagai macam latar belakang yang berbeda.  Ada perbedaan sikap dari organisasi dalam menanggapi komposisi karyawan (orang/pegawai) yang beragam tersebut, yaitu (1) menggangap perbedaan sebagai sumber persoalan atau masalah dan (2) menganggap keragaman tersebut sebagai asset organisasi. 

Sikap organisasi yang baik adalah organisasi yang menyadai bahwa keberagaman dan perbedaan adalah asset bagi organisasi karena dapat menciptakan kompetisi yang sehat dan menjadikan organisasi lebih dinamis.  Selain itu, karena keberagaman akan menjadi trend dalam perkembangan berikutnya (Sobirin, 2020: 2.2).  Hal ini didasari oleh dua alasan, yaitu (1) perbedaan individual karyawan sesungguhnya bersifat alami dan (2) lingkungan eksternal organisasi cenderung mengalami tubulensi yang sangat tinggi dan mengalamai perubahan setiap saat.

Dengan demikian, mengingat perbedaan individu karyawan dalam organisasi bersifat alamiah dan sebuah keniscayaan serta akan memberikan manfaat bagi organisasi, maka para pimpinan (manager) harus melakukan hal-hal berikut: (1) mengelola perbedaan dengan baik agar memberikan manfaat untuk organisasi/perusahaan, (2) menyadari bahwa perbedaan individu karyawan akan berakibat pada perbedaan perilaku mereka, (3) menyadari bahwa perbedaan perilaku akan memberi dampak kepada organisasi/perusahaan.

Setiap individu memiliki property dasar yang melekat pada dirinya yang membedakan dirinya dengan orang lain.  Property-property dasar tersebut adalah (1) kepribadian dan kemampuan diri, (2) nilai-nilai individu, dan (3) sikap seseorang.  Konsekuensi dari perbedaan property dasar setiap individu adalah setiap orang akan memiliki perilaku yang berbeda walaupun telah berinteraksi dengan orang lain dalam organisasi untuk jangka waktu yang cukup lama.  Pada akhirnya, perbedaan perilaku tersebut akan mempengaruhi kinerja dan kepuasan kerja masing-masing karyawan.

Sebagaimana telah disampaikan di atas bahwa setiap orang berbeda atau beragam.  Perbedaan individual seseorang tersebut, secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu:

  • Perbedaan karena kepribadian (personality),
  • Perbedaan karena kemampuan diri (ability)

Kepribadian

Kepribadian (personality) secara definitif menurut Sobirin (2020: 2.7) merupakan satu set karakteristik dan kecenderungan-kecenderungan seseorang yang bersifat permanen (tidak mudah berubah dalam jangka pendek) dan yang menjadikan orang tersebut berbeda atau sama dengan orang lain dalam cara berpikir, mengungkapkan perasaan dan berperilaku.

Kemampuan Diri

Sedangkan kemampuan diri (sering juga disebut aptittude atau skill) menurut Sobirin (2020: 2.31) adalah kapabilitas seseorang untuk mengerjakan berbagai macam pekerjaan.  Kemampuan diri, secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

  • Kemampuan mental (cognitive ability),
  • kemampuan fisik (physical ability)

Kemampuan Kognitif/Mental

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kemampuan berasal dari kata mampu yang berarti kuasa (bisa, sanggup) melakukan sesuatu.  Sedangkan kemampuan berarti kesanggupan, kecakapan, kekuatan.  Kognitif merupakan kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan (termasuk kesadaran, perasaan dan sebagainya) atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri.  Menurut Sobirin (2000: 2.32) yang dimaksud dengan kemampuan kognitif/mental adalah kemampuan intelektual seseorang untuk berpikir, mengemukakan alasan dan mengambil keputusan.  Perbedaan individu yang disebabkan oleh perbedaan kemampuan mental sering disebut intelligence atau intelegensi.  

Alat ukur tingkat perkembangan mental/intelegensi ini dikenal sebagai IQ Tes (Intelligence Quotient Test) yang konsepnya pertama kali dikembangkan oleh Louis Terman pada tahun 1916 di Stanford University.

Kemampuan kognitif yang dimiliki manusia sangat bervariasi sehingga untuk bisa digunakan dalam membedakan kemampuan kognitif/mental seseorang dengan orang lain disusun secara hierarki dimana hirearki paling atas adalah kemampuan intelegensia.  Dimensi-dimensi lain yang mengikuti kemampuan intelegensi ada delapan yaitu: (1) kemampuan verbal, (2) kemampuan memberi pertimbangan/alasan, (3) kemampuan melihat hubungan sebab akibat, (4) kemampuan tata ruang, (5) kemampuan numerik, (6) kemampuan deduktif, (7) kemampuang mengingat, dan (8) kemampuan memersepsi.

Pengertian dan contoh-contoh delapan dimensi tersebut adalah sebagai berikut:

a.  Kemampuan verbal

Kemampuan verbal adalah kemampuan untuk memahami dan menggunakan, baik bahasa tulisan maupun tulisan.  Contoh pekerjaan yang memerlukan kemampuan verbal adalah pengacara, komedian, guru/dosen, penulis.

b.  Kemampuan memberi pertimbangan/alasan

Kemampuan jenis ini adalah kemampuan untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan dan memahami prinsip-prinsip dasar bahwa persoalan berbeda memerlukan penyelesaian yang berbeda pula.  Contoh pekerjaan yang memerlukan kemampuan jenis ini adalah mekanik kendaraan bermotor, ahli terapi, desainer interior, desainer software komputer.

c.   Kemampuan melihat hubungan sebab-akibat

Orang yang mempunyai kemampuan hubungan sebab-akibat akan mampu melihat saling hubungan antara sebuah benda dengan benda lain atau antara suatu kejadian dengan kejadian lain.  Seorang Agen perjalanan, antroplog dan para konsultan merupakan contoh pekerjaan untuk kemampuan jenis ini.

  d.  Kemampuan tata-ruang (spatial)

Kemampuan dimensi ini adalah kemampuan untuk menentukan tempat atau lokasi dan susunan sebuah objek dalam kaitannya dengan posisi seseorang dalam sebuah ruangan, serta kemampuan seseorang yang bisa membayangkan bagaimana suatu objek tatkala posisinya dalam sebuah ruangan berubah.  Arsitek, astronot, desainer baju dan pengendali lalu lintas udara adalah contoh-contoh pekerjaan yang membutuhkan kompentensi tata-ruang.

e.  Kemampuan numerik

Orang yang mempunyai kemampuan numerik akan mampu memecahkan persoalan aritmatika dan segala sesuatu yang berhubungan dengan angka.  Contoh-contoh pekerjaan yang membutuhkan kemampuan numerik antara lain akuntan, insinyur dan bankers.

f.  Kemampuan deduktif

Kemampuan deduktif adalah kemampuan utnuk membuat suatu simpulan yang pas dari berbagai observasi yang telah dilakukannya atau kemampuan untuk mengevaluasi berbagai implikasi dari berbagai fakta yang berbeda.  Contoh-contoh untuk jenis kemampuan ini antara lain ilmuwan, peneliti medis, detektif, wartawan.

g.  Kemampuan mengingat

Pengertian kemampuan ini adalah kemampuan seseorang untuk mengingat kembali pernyataan-pernyataan atau kalimat-kalimat, mulai dari komposisi yang paling sederhana sampai dengan komposisi yang sangat kompleks.  Pekerjaan yang cocok untuk kemampuan ini antara lain penerjemah, bagian penjualan, manajer peneliti.

h.  Kemampuan mempersepsi

Yang dimaksud dengan kemampuan memersepsi adalah kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan di antara beberapa gambar visual.  Contoh-contoh pekerjaan yang cocok dengan kemampuan ini antara lain fotografer, desainer landskap, pilot pesawat terbang, kapten kapal.

Pemahaman tentang kemampuan-kemampuan di atas sangat penting dalam kaitannya dengan penempatan seorang karyawan pada suatu pekerjaan tertentu.  Hal itu karena setiap pekerjaan memerluakn tingkat intelektualitas yang berbeda-beda, ada yang memerlukan intelektulitas tinggi ada yang tidak.

Kemampuan Emosional atau Emotional Intelligence

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Psikolog Peter Salovey dan John Mayer pada tahun 1990, namun lebih populer setelah ditulis oleh Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul Emotional Intelligence:  Why it Can Matter than IQ.  Dalam Sobirin (2020: 2.36) disebutkan bahwa yang dimaksud dengan emotional intelligence adalah a cluster of abilities to the emotional or feeling side of life atau lebih kurang seperangkat kemampuan diri yang berkaitan dengan sisi kehidupan manusia yang menyentuh emosi dan perasaan.

Komponen-komponen kemampuan diri yang termasuk Emotional Intelligence (EI) atau Emotional Quotien (EQ) tersebut adalah sebagai berikut:

  • Kemampuan mengakui dan mengatur emosi diri sendiri,
  • Kemampuan mengakui dan mempengaruhi emosi orang lain,
  • Motivasi diri,
  • Mampu membangun dan menjaga hubungan jangka panjang dengan orang lain.

EI atau EQ berguna bagi kehidupan organisasi.  Hal ini ditunjukkan dengan bukti empiris antara lain orang yang mampu "membaca" orang lain secara akurat terbukti menjadi seorang wirausaha (enterpreneur) yang sukses.  Contoh lain, peneliti (researcher) yang lebih disukai oleh peneliti lain dibandingkan dengan peneliti yang tidak disukai peneliti lainnya biasanya lebih produktif.

Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient)

Dewasa ini, selain dua kecerdasan IQ dan EQ, berkembang pula yang dinamakan kecerdasan spritual (SQ).  Zohar dan Marhsall (2001: 12-13) mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makan dan nilai yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna daripada yang lain.

Selain pengertian di atas, dari beberapa pengertian mengenai SQ, dapat disimpulkan bahwa SQ adalah kemampuan potensial setiap manusia yang menjadikan ia dapat menyadari dan menentukan makna, nilai, moral serta cinta terhadap kekuatan yang lebih besar dan sesama mahluk hidup karena merasa bagian dari keseluruhan.

Menurut Agustian, Zohar dan Marshall (2007: 14) SQ yang berkembang baik akan ditandai dengan beberapa karakteristik sebagai berikut:

  • Kemampuan bersikap fleksible,
  • Mencari jawaban yang mendasar dalam melihat berbagai persoalan,
  • Memiliki kesadaran tinggi dan konsisten (istiqomah) dalam hidup yang diilhami oleh visi dan nilai,
  • Rendah hati,
  • Ikhlas dan tawakkal dalam menghadapi dan melampaui cobaan,
  • Memiliki integritas dalam membawakan visi dan nilai pada orang lain.

Seorang yang tinggi SQ-nya akan cenderung menjadi seorang pemimpin yang penuh pengabdian yaitu seorang yang bertanggung jawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih tinggi terhadap orang lain serta dapat memberikan inspirasi terhadap orang lain.

Kombinasi dari kemampuan intelektual (IQ), kemampuan emosional (EQ) dan kemampuan spiritual (SQ) yang dimiliki seseorang akan menjadikannya mempunyai perilaku yang positif dan berpeluang besar untuk meraih sukses di setiap bidang yang digelutinya.


Referensi:
  • Sobiri, Achmad. 2nd Edition, 2020. Perilaku Organisasi. Penerbit Universitas Terbuka.
  • Zohar D. dan Marshall, S. 2001. SQ, Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan. Bandung : Mizan.
  •  Zohar., Danah dan Marshall. (2007). Kecerdasan Spiritual. Bandung: PT. Mizam Media Utama.

0 comments

Subscribe to Our Newsletter