Filosofi Jalan Malioboro - xplorealitas

www.explorealitas.com

Ad Placement

Ad Placement

Filosofi Jalan Malioboro

Kalau kita lihat dengan seksama peta Yogyakarta, antara Tugu dengan Kraton Yogya terdapat empat ruas jalan. Ruas pertama adalah antara Tugu hingga rel kereta api, yang diberi nama Jalan Margoutomo. Kedua, adalah ruas jalan sesudah rel kereta, yaitu Jalan Malioboro, yang merupakan salah satu nama jalan paling terkenal di Indonesia. Ruas ketiga adalah terusan Malioboro, yaitu dari perpotongan Jalan Suryatmajan dan Jalan Pajeksan hingga titik nol Yogya, yang diberi nama Jalan Margomulyo. Dan terakhir, adalah ruas jalan antara titik nol hingga Kraton Yogya, yang diberi nama Jalan Pangurakan.

Cak Nun, panggilan akrab Nurcholis Madjid menafsirkan empat ruas jalan populer di Yogyakarta tersebut.  Menurut Cak Nun, nama empat ruas jalan itu mengandung makna. Kesultanan Islam Yogyakarta meyakini jika setiap manusia harus memastikan dirinya menempuh Jalan Margoutomo, atau “Jalan Utama”, yaitu jalan yang menomorsatukan akal budi, bukan kekuasaan dan kesejahteraan ekonomi. Untuk menguji diri di jalan utama ini, maka setiap orang harus “Malio-boro”, alias “menjadi Wali”, mampu menjadi khalifah Tuhan, “mamayu hayuning bawana”. Malioboro, menurut penafsiran Cak Nun, berarti “wali yang mengembara”, yaitu wali yang bisa melakukan eksplorasi kemanusiaan, melakukan penjelajahan intelektual, serta sanggup berkelana di langit ruhani. 

Jika sudah melewati Malioboro, maka sampailah ia di Jalan Margomulyo, yaitu “jalan kemuliaan”. Di sini, orang bukan hanya telah memperoleh ilham dari Tuhan, tapi juga fadhilah (kelebihan), ma’unah (keistimewaan) dan karomah (kemuliaan). 

Terakhir, sesudah menapaki Jalan Margomulyo, sampailah di Jalan Pangurakan. Sesuai namanya, “urakan” mengandung arti sikap berani mentalak kepentingan duniawi. Di sini, “diri sendiri” sudah ditalak, sehingga orang bisa menemukan “diri sejati”-nya. Seseorang tidak lagi mengukur kehormatannya dari apa yang dimiliki, atau siapa dia dengan jabatannya, melainkan mengukur dirinya dari seberapa bermanfaat dirinya bagi orang lain.

Sumber :
https://www.facebook.com/tarli.nugroho
Tarli Nugroho, Executive Director pada Lembaga Analisis Sosial & Kajian Ekonomi Politik

0 comments

Subscribe to Our Newsletter