Implementasi Database Management System (DBMS) dan Penerapan Big Data pada Industri e-Commerce di Indonesia - xplorealitas

www.explorealitas.com

Ad Placement

Ad Placement

Implementasi Database Management System (DBMS) dan Penerapan Big Data pada Industri e-Commerce di Indonesia

 

Pendahuluan

Data yang didefinisikan sebagai suatu fakta yang dapat berguna untuk diolah menjadi informasi (Agustin, 2019), peranananya menjadi bertambah penting pada era saat ini, era industri 4.0. Kagermann (2013) dalam Prasetyo dan Sutopo (2018) mendefinisikan industri 4.0 adalah integrasi dari Cyber Physical System (CPS) dan Internet of Things and Services (IoT and IoS) ke dalam proses industri.  Namun, pada hakekatnya, di era manapun data adalah sesuatu yang penting bagi manajemen perusahaan.  Pentingnya data bagi manajemen disampaikan lebih lanjut oleh Agustin (2019) sebagai bahan untuk informasi, identifikasi dan perumusah masalah, pengetahuan, perkiraan, pertimbangan dan alternatif keputusan.

Besarnya data yang dimiliki perusahaan tidak serta merta menjadikannya sebagai suatu perusahaan yang maju dan bernilai tinggi jika perusahaan tersebut tidak mampu menyimpan dan mengorganisir serta tidak mempunyai cara yang sistematis untuk mengambilnya.   Untuk itu, menurut O’Brien, dan Marakas (2014), seluruh sistem informasi, sumber data harus diorganisasi dan terstruktur dalam beberapa cara yang logis sehingga dapat diakses dengan mudah, diproses dengan efisien, diambil dengan cepat dan dikelola dengan efektif.  Lebih lanjut O’Brien, dan Marakas (2014) menjelaskan bahwa data secara logis dapat diorganisasi menjadi karakter, bidang, catatan, arsip dan database.

Pengertian Database

Para pengguna atau user memerlukan sarana untuk menyediakan informasi.  Sarana tersebut adalah database yang merupakan salah satu komponen penting dalam sistem informasi.  Definisi atau pengertian database dapat kita temukan dari berbagai literatur.  Agustin (2019) mendefinisikan basis data (database) sebagai kumpulan dan simpanan data dari berbagai data perusahaan yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.  Sedangkan Daniel dan Supratiwi (2020) mendefisikan database sebagai seluruh data yang dikumpulkan oleh organisasi berdasarkan sistem informasi berbasis komputer (Computer Based Information System, CBIS).  Pengertian yang lebih ringkas dari database disampaikan oleh O’Brien dan Marakas (2014) yaitu kumpulan terintegrasi dari elemen data terkait yang logis. Suatu database mengonsolidasikan catatan sebelumnya yang disimpan dalam arsip yang terpisah ke dalam kelompok data elemen biasa yang menyediakan data untuk berbagai aplikasi.

Pengertian dan Fungsi Database Management System (DBMS)

Data harus diorganisasi agar pemrosesannya menjadi lebih efisien.  Proses tersebut disebut struktur database (McLeod, Raymond Jr dan Schell, 2019).  Struktur tersebut kemudian diimplementasikan melalui sistem manajemen basis data (Database Management System).

McLeod dan Schell (2019) mendefinisikan Database Management System (DBMS) sebagai suatu aplikasi software yang menyimpan struktur database, data itu sendiri, hubungan di antara data di dalam database, dan nama-nama formulir, jenis-jenis data, angka dibelakang desimal, jumlah karakter, nilai-nilai default dan seluruh uraian field lainnya.  Hal tersebut menjadi alasan bahwa database yang dikendalikan oleh suatu sistem manajemen database disebut self-describing set of related data (sekumpulan data terhubung yang dapat menjelaskan dirinya sendiri).  

Menurut Agustin (2019), DBMS merupakan software, hardware, firmware serta prosedur-prosedur yang menangani semua akses pada database untuk melayani keperluan pengguna.  Disamping itu, menurut Agustin (2019), DBSM bisa dipahami sebagai manupulasi database yang meliputi pembuatan pernyataan (query) untuk mendapatkan informasi tertentu, melakukan pembaruan atau penggantian (update) data serta pembuatan report data.

Paket DBMS dirancang menggunakan struktur data spesifik untuk menyediakan pengguna akhir dengan kecepatan, akses yang mudah ke informasi yang tersimpan dalam database. Menurut O’Brien dan Marakas (2014) ada lima struktur fundamental dari database, yaitu: (1) hierarkies, (2) jaringan, (3) relasional, (4) berorientasi objek, dan (5) model multidimensional.  

Tiga dari lima struktur database (hierarkies, jaringan dan relasional) dapat dilihat pada gambar berikut:

Dalam merancang database, menurut (Daniel dan Supratiwi, 2020), dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: (1) menentukan data yang diperlukan, (2) penjelasan mengenai data, dan (3) menginput data ke dalam database.  Sedangkan perancangan database dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan berorientasi pada proses dan pendekatan enterprise modelling.  Pendekatan berorientasi proses dimulai dengan mengidentifikasi problem yang sering timbul atau potensial problem, mengidentifikasi keputusan yang perlu diambil, penjelasan mengenai kebutuhan informasi, menentukan proses yang harus dilakukan, melakukan spesifikasi kebutuhan data dan merancang spesifikasi data.

Sedangkan proses pendekatan enterprise modelling meliputi proses-proses menciptakan data model berdasarkan perencanaan strategis untuk sumberdaya informasi dan pengembangan database berdasarkan database tersebut.  Beberapa software DBMS yang sering digunakan dalam aplikasi program menurut Agustin (2019) antara lain MySQL, Oracle, Microsoft SQL Server, Firebird, Visual Foxpro, Postgre SQL, dBase dan IBM DB2.

Database digunakan untuk menjaga agar pencatatan internal dapat selalu dipelihara.  Selain itu, database dapat juga digunakan untuk menyiapkan data yang bisa diambil oleh supplier maupun konsumen melalui world wide web pada aktivitas komersial e-Commerce.  Fungsi lain, DBMS dapat juga digunakan pengguna untuk melakukan hal-hal berikut (Daniel dan Supratiwi, 2020):

1. Menyiapkan data dalam jumlah besar.

2. Memampukan pengguna atau program aplikasi memanipulasi data dengan menggunakan query.

3. Mendukung akses ke data dari beberapa sisi secara bersama-sama.

Pengertian e-Commerce

Sebelumnya sudah disebutkan bahwa database dapat digunakan untuk menyiapkan data pada aktivitas e-Commerce melalui world wide web.  Menurut Daniel dan Supratiwi (2020), e-Commerce adalah aktivitas pasar pada ‘lokasi’ yang berbasis jaringan dimana terjadi interaksi bisnis yang dilakukan secara elektronik dengan memanfaatkan jaringan telekomunikasi.  O’Brien dan Marakas (2014) memberikan penjelasan yang lebih komprehensif mengenai e-Commerce yaitu keseluruhan proses online mulai dari pengembangan, pemasaran, penjualan, pengiriman, pelayanan dan pembayaran untuk produk dan layanan yang telah ditransaksikan antarjaringan, pasar global pelanggan dengan dukungan dari jaringan mitra bisnis di seluruh dunia.

Lebih lanjut O’Brien dan Marakas (2014) menjelaskan bahwa perusahaan yang terlibat dalam e-Commerce, baik pembeli maupun penjual, bergantung kepada teknologi berbasis internet serta aplikasi dan layanan e-Commerce untuk mencapai pemasaran, penemuan, proses transaksi dan proses layanan produk serta pelanggan.  Selain itu, e-Commerce juga memasukkan proses bisnis elektronik, antara lain: (1) akses database extranet persediaan oleh pelanggan dan pemasok (pengolahan transaksi), akses intranet dari sistem manajemen hubungan pelanggan oleh perwakilan penjualan dan layanan pelanggan (support services) dan kolaborasi pelanggan dalam pengembangan produk melalui email dan kelompok berita di internet (pemasaran/penemuan).

Adapun keuntungan dari e-Commerce adalah memungkinkan ukuran bisnis apapun, secara virtual dapat melaksanakan bisnis dengan seseorang dimanapun di seluruh dunia.  Kekuatan e-commerce memungkinkan kendala fisik menjadi hilang sehingga membuat seluruh pelanggan dan bisnis di dunia berpotensi menjadi konsumen dan supplier.

Dari sisi teknologi, e-commerce menggunakan beberapa teknologi antara lain Electronic Data Interchange (EDI) sampai electronic mail (email).  EDI merupakan pengembangan e-commerce dari pemrosesan transaksi keuangan ke transaksi-transaksi lain.

Kategori dalam e-commerce menurut O’Brien dan Marakas (2014) antara lain terdiri dari:

a. Business-to-Customer (B2C).

b. Customer-to-Customer (C2C)

c. Business-to-Business (B2B/C2C)

Pengertian ‘Big Data’

‘Big data’ merupakan konsep yang mencakup kumpulan data dengan ukuran di luar kemampuan software yang biasa digunakan untuk menangkap, menyimpan, mengelola dan memproses data (Kataria, M dan Mittal, 2014).  Hal utama dari Big Data adalah adanya pertumbuhan data dan informasi secara eksponensial dengan jenis yang semakin bervariasi.  Tantangannya adalah mengelola sejumlah besar data yang heterogen dan memahami semua data tersebut agar dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan bisnis.  Prinsip dasar dari Big Data adalah berkaitan dengan tiga hal berikut : 

a. Volume, yaitu aliran data yang masuk dan volume kumulatif,

b. Velocity, menggambarkan kecepatan data yang digunakan untuk mendukung interaksi keberhasilan dan dihasilkan oleh interaksi.

c. Variety, menandakan berbagai format data dan struktur data yang tidak kompatible dan tidak konsisten.

Dengan demikian, isu utama terkait Big Data adalah mengelola dan menganalisa agar data-data tersebut dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk meningkatkan bisnis perusahaan.

Penerapan Big Data pada Industri e-Commerce di Indonesia

Big data dapat membantu perusahaan untuk berinovasi dengan mempelajari hubungan antara manusia, lembaga, entitas dan prosesnya.  Keempat hubungan tersebut kemudian dianalisa untuk menentukan tindakan atau langkah untuk memanfaatkan hubungan keempatnya dalam rangka meningkatkan bisnis.  Prakteknya, perusahaan dapat menggunakan data insight untuk meningkatkan keputusan tentang perencanaan strategis pengembangan bisnis, keuangan dan perencanaan lainnya.  Disamping itu, perusahaan dapat memperhatikan kecenderungan (trend) dan keinginan konsumen tentang produk berikut layanan-layanan perusahaan lainnya.

Big Data ditambah dengan Artificial Intelligence telah mengubah perilaku bisnis di seluruh dunia termasuk di Indonesia.  Pada kasus perusahaan retail, berdasarkan data Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia), sekitar 95% dari 600 anggota Aprindo sudah bertransformasi dari perdagangan konvensional ke perdaganan elektronik (e-commerce).  Konsekuensi dari perubahan tersebut mengharuskan pengusaha ritel mengubah model bisnis dan menyerap teknologi untuk mengikuti perkembangan zaman demi kelangsungan bisnisnya.

Salah satu penerapan Big Data dalam e-commerce dapat dilihat pada pemberian rekomendasi produk konsumen.  Contohnya adalah bagaimana pengusaha ritel mampu mempelajari perilaku konsumen melalui barang rekomendasi yang muncul melalui iklan.  Setelah melihat iklan, konsumen akan mendapat iklan berupa rekomendasi barang serupa.  Kemudian beberapa perusahaan mengadakan loyalty program, misalnya memberikan hadiah berupa poin yang dapat ditukarkan ke gerai, untuk mengetahui kebiasaan-kebiasaan konsumen mereka.

Contoh penerapan Big Data lain adalah pada industri transportasi, salah satunya perusahaan Gojek.  Perusahaan ini merupakan salah satu start-up yang berhasil memanfaatkan Big Data untuk peningkatan pelayanan dan inovasi terhadap pelayanan prima.  Dari data yang didapatkan dari konsumennya, Gojek dapat mengetahui aktivitas maupun kecenderungan yang dilakukan oleh pelanggannya sehingga Gojek akan mampu dengan tepat memberikan rekomendasi maupun bonus yang tepat untuk pelanggannya seperti gratis ongkos kirim maupun voucher potongan harga untuk produk-produknya.

Pemberian bonus atau potongan harga, voucher dan rekomendasi dari aplikasi Gojek akan muncul setelah pelanggan melakukan sebuah transaksi. Hal tersebut terjadi karena hasil analisa Big Data yang dilakukan Tim Gojek.  Mereka memberikan rekomendasi karena mempunyai data riwayat transaksi dari pelanggan-pelanggannya.  Disini terlihat bahwa pemanfaatan Big Data mampu memberikan keuntungan-keuntungan sebagai berikut:

  • Mengenal pelanggan lebih baik.
  • Membangun strategi markeing yang lebih efektif.
  • Meningkatkan pengalaman belanja konsumen,
  • Meningkatkan inovasi e-commerce.

Di Indonesia, penerapan Big Data sudah sangat pesat dan sudah banyak diaplikasikan.  Selain Gojek, start-up lain yang juga sukses antara lain Traveloka, Tokopedia dan Bukalapak.

Kesimpulan

DMBS merupakan kumpulan dan simpanan data dari berbagai data perusahaan yang saling berhubungan satu sama lain.  Basis datanya disimpan di hardware kemudian diolah, dimanipulasi dan dibuatkan laporan dengan menggunakan software.  DBMS mempunai lima struktur dasar, yaitu: (1) hierarkies, (2) jaringan, (3) relasional, (4) berorientasi objek, dan (5) model multidimensional.  

Penggunaan database pada aktivitas komersial e-Commerce di Indonesia terbilang sukses.  Hal ini ditandai dengan munculnya perusahaan start-up sukses antara lain seperti Gojek, Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak.

DBMS, Big Data dan e-Commerce sangat terkait erat.  Big Data yang dikelola dengan DBMS yang optimal akan semakin mendorong transaksi e-commerce yang juga terus meningkat.  Pada akhirnya akan melahirkan perusahaan-perusahaan baru yang sebelumnya tidak terbayangkan bisa mengalahkan perusahaan besar Indonesia seperti Pertamina, PLN dan Garuda Indonesia.

========================
*Tulisan ini diambil dari Tugas 1 Mata Kuliah Sistem Informasi Management.


Daftar Pustaka

Agustin, H. (2019). Sistem Informasi Manajemen dalam Perspektif Islam (1st ed.). Rajawali Pers.

Daniel, Debby Ratna dan Supratiwi, W. (2020). Sistem Informasi Manajemen (1st ed.). Universitas Terbuka.

Kataria, M dan Mittal, P. (2014). Computing Big Data: A Review. International Journal of Computer Science and Mobile Computing, 3(7).

McLeod, Raymond Jr dan Schell, G. P. (2019). Sistem Informasi Manajemen (10th ed.). Salemba Empat.

O’Brien, Jamies A dan Marakas, G. M. (2014). Sistem Informasi Manajemen (9th ed.). Salemba Empat.

Prasetyo, Hadi dan Sutopo, W. (2018). Industri 4.0: Telaah Klasifikasi Aspek dan Arah Perkembangan Riset. Jurnal Teknik Industri, Universitas Diponegoro, 13(1), 10.

0 comments

Subscribe to Our Newsletter