Emosi dan Mood serta Manfaat Mengetahuinya Bagi Seorang Manajer - xplorealitas

www.explorealitas.com

Ad Placement

Ad Placement

Emosi dan Mood serta Manfaat Mengetahuinya Bagi Seorang Manajer

 

Emosi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.  Setiap saat manusia pasti merespon atau bereaksi terhadap orang lain atau terhadap suatu peristiwa.  Reaksi pada seseorang atau suatu peristiwa tersebut merupakan definisi emosi menurut Robbins and Judge (2017).  Pembahasan emosi akan terkait erat dengan afeksi (affect) dan mood.  Afeksi meliputi emosi dan susana hati itu sendiri.  Mood merupakan perasaan juga namun tidak sedalam emosi dan biasanya tidak terarah pada orang atau peristiwa.

Kaitan yang erat antara emosi dan mood dapat tergambar dari keadaan dimana emosi dapat menjadi mood pada saat seseorang tidak memberikan perhatian penuh pada peristiwa atau objek yang memulai perasaan tersebut.  Demikian pula sebaliknya, mood yang baik atau kurang baik dapat menjadikan seseorang menjadi lebih emosional dalam menanggapi suatu peristiwa.  Intinya, emosi dan mood sangat berhubungan erat dan saling mempengaruhi.  Misalnya, seseorang yang mendapatkan pekerjaan yang sangat diinginkannya, menjadikan seseorang itu emosi bahagia dimana bahagia tersebut akan membuat mood seseorang baik dalam periode waktu tertentu.

Emosi dan mood nampak sama, namun pada hakekatnya ada perbedaan.  Pertama, seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa emosi lebih disebabkan peristiwa atau objek yang spesifik, sementara mood tidak diarahkan pada orang atau peristiwa.  Perbedaan lainnya, emosi (misalnya amarah) cenderung lebih jelas ditampilkan oleh ekpsresi wajah dan lebih berorientasi tindakan, sedangkan suasana hati lebih kognitif dimana dapat menyebabkan seseorang berfikir atau khawatir untuk sementara waktu.

Namun demikian, tidak sebagaimana dalam teori bahwa afeksi, emosi dan mood itu terpisah, dalam prakteknya, perbedaaan ketiganya tidak selalu jelas.  Dengan demikian, tatkala mengelompokkan emosi menjadi kategori positif dan negatif, hal itu akan cenderung menjadi mood karena melihatnya secara lebih umum, sehingga lebih tepat apabila dikelompokkan menjadi afektif positif dan negatif.

Afeksi positif merupakan suatu dimensi suasana hati yang meliputi emosi-emosi positif, contohnya bersemangat, kewaspadaan, gembira, bahagia, puas, damai dan rileks.  Sementara itu afeksi negatif adalah dimensi suasana hati yang terdiri atas lesu, bosan, depresi, sedih, kecewa, stress, gugup dan tegang.

Peristiwa-peristiwa yang menyebabkan emosi negatif jauh lebih kuat daripada peristiwa yang menyebabkan emosi positif.  Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman negatif akan cenderung lebih kuat untuk diingat daripada pengalaman positif.

Ada hal yang cukup menarik yang disampaikan Robbins and Judge (2017) bahwa ada penelitian terbaru yang menyatakan bahwa afeksi negatif juga memiliki banyak manfaat, misalnya melakukan visualisasi skenario terburuk seringkali membuat orang untuk menerima situasi yang ada siap menghadapinya.  Contoh lainnya, afeksi negatif akan membuat seorang manajer untuk berpikir dengan lebih kritis dan fair.  Studi terkini lain memberikan contoh bahwa ada indikasi dalam mood yang negatif akan lebih baik dalam mengkritisi informasi yang lebih akurat dibandingakan dengan orang dalam mood yang bahagia.

Emosi dan mood dipengaruhi oleh banyak faktor meliputi : (1) kepribadian, (2) waktu dalam hari, maksudnya apakah pagi, siang, sore atau malam hari, (3) hari dalam minggu, artinya apakah hari Senin, Jumat, Sabtu atau Minggu, (4) kondisi cuaca, (5) tingkat stress, (6) keterlibatan dalam aktivitas sosial, (7)  lamanya waktu tidur, (8) kebiasaan berolahraga, (9) faktor usia atau umur, dan (10) jenis kelamin.

Ada pekerjaan-pekerjaan tertentu, terutama pekerjaan di bidang jasa yang sangat memerlukan kontrol emosi dari setiap pegawainya. Dari konsep ini muncul istilah emosi pekerja yang didefinisikan oleh Robbins and Judge (2017) sebagai suatu ekspresi pegawai atas emosi-emosi yang diharapkan organisasi selama interkasi antar orang dalam bekerja.

Terkait hal tersebut muncul istilah surface acting (akting permukaan) dan deep acting (akting mendalam).  Akting permukaan adalah tidak memperlihatkan perasaan dan ekspresi emosional karena adanya aturan perusahaan.  Misalnya, seorang pegawai yang harus bersikap ramah pada client-nya walaupun pada saat tersebut orang itu sedang mempunyai masalah yang cukup berat di rumahnya.

Sedangkan akting mendalam mencoba untuk mengelola perasaan di dalam diri yang sebenarnya berdasarkan aturan.  Misalnya, seorang dokter yang berusaha untuk secara tulus ber empati terhadap pasiennya, seorang customer service yang menyapa dan tersenyum dengan tulus kepada pelanggan yang sedang complain.  Dengan demikian, akting permukaan berkaitan dengan emosi yang diperlihatkan, sedangkan akting mendalam berkaitan dengan emosi yang dirasakan.  Kedua tipe “akting” ini sangat berpengaruh terhadap perasaan. Ada indikasi bahwa surface acting dapat menyebabkan karyawan sangat tertekan sedangkan mindfullness (belajar lebih objektif mengevaluasi situasi emosi pada saat tertentu) lebih berefek positif bagi kebaikan karyawan.

Pengaruh emosi dan mood terhadap kinerja dijelaskan oleh model yang disebut teori peristiwa afektif (affective event theory) yang intinya menjelaskan bahwa karyawan akan bereaksi secara emosional pada hal-hal yang terjadi di tempat kerja dan reaksi tersebut mempengaruhi kinerja dan kepuasan mereka.  Teori ini menemukan bahwa peristiwa di tempat kerja ada reaksi emosional positif dan negatif yang dipengaruhi oleh personality dan mood pekerja yang akan direspon oleh karyawan dengan intensitas yang berbeda, ada yang lebih tinggi atau rendah.

Pengaruh emosi dan mood terhadap kinerja dijelaskan oleh model yang disebut teori peristiwa afektif (affective event theory) yang intinya menjelaskan bahwa karyawan akan bereaksi secara emosional pada hal-hal yang terjadi di tempat kerja dan reaksi tersebut mempengaruhi kinerja dan kepuasan mereka.  Teori ini menemukan bahwa peristiwa di tempat kerja ada reaksi emosional positif dan negatif yang dipengaruhi oleh personality dan mood pekerja yang akan direspon oleh karywan dengan intensitas yang berbeda, ada yang lebih tinggi atau rendah.

Robbins and Judge (2017) mengemukakan bahwa cara yang paling tepat untuk mendapatkan tim terbaik adalah memilih anggota tim yang mempunyai pikiran positif dan melakukan pelatihan terhadap pemimpin dalam mengelola suasana hati, sikap kerja dan kinerja mereka.  Proses seleksi atau perekrutan individu-individu yang positif merupakan salah satu manfaat dari memahami emosi dan mood.  Manfaat atau aplikasi lain dari pentingnya pemimpin memahami emosi dan mood adalah sebagai berikut : 

  1. Penting untuk proses pengambilan keputusan; mood dan emosi yang positif membantu dalam proses pengambilan keputusan yang baik.
  2. Kreativitas; karyawan yang suasana hatinya baik cenderung kan lebih kreatif daripada orang dalam suasana hati yang tidak baik.
  3. Motivasi; Orang dengan suasana hati yang positif akan cenderung mempunyai motivasi yang tinggi.  Hal ini sangat diperlukan bagi pemimpin agar timnya mempunyai motivasi tinggi dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.
  4. Leadership; kepemimpinan efektif tergantung kepada daya tarik emosional untuk membantu menyampaikan pesan.
  5. Negosiasi; emosi dan mood sangat berperan bagi seseorang ketika melakukan negosiasi.
  6. Customer service (layanan pelanggan); situasi emosional karyawan mempengaruhi layanan terhadap pelanggan.
  7. Sikap kerja;  orang-orang yang suasana hatinya baik di tempat kerja akan cenderung mempunyai sikap kerja yang lebih baik.
  8. Perilaku menyimpang di mana karyawan itu bekerja.
  9. Keselamatan dan kecelakaan di tempat kerja.

Pemimpin organisasi atau manajer dapat mempengaruhi suasana hati timnya.  Hal itu dapat dilakukan pemimpin antara lain dengan melakukan dialog-dialog yang mengundang tawa dan memberikan apresiasi kepada tim yang telah melakukan pekerjaan dengan baik.  Yang terpenting adalah mood dari pemimpinnya karena apabila mood pemimpin dalam kondisi yang baik, anggota timnya akan cenderung lebih positif dan hasilnya mereka akan bekerjasama dengan lebih baik lagi.  Cara lain adalah dengan cara menyeleksi anggota-anggota tim yang berpikiran positif karena mood yang positif dari seseorang akan berpengaruh positif terhadap anggota tim lainnya.


-----------------------------------------------------------
*Diskusi ke-11, Mata Kuliah Perilaku Organisasi

Daftar Pustaka
Robbins, Stephen P., and Judge, T. A. (2017). Perilaku Organisasi (16th ed.). Jakarta:  Salemba Empat.



0 comments

Subscribe to Our Newsletter