TEORI KEPEMIMPINAN FIEDLER - xplorealitas

www.explorealitas.com

Ad Placement

Ad Placement

TEORI KEPEMIMPINAN FIEDLER

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Element penting dari perilaku organisasi dan manajemen adalah mengkoordinasikan aktivitas orang dan membimbing usaha mereka mencapai tujuan dan sasaran organisasi (Mullins, 2016).  Hal tersebut melibatkan proses kepemimpinan.  Proses tersebut melibatkan peran pemimpin dalam suatu organisasi dan manajemen. Pemimpin diperlukan untuk menantang status quo, menciptakan visi masa depan, dan menginspirasi para anggota organisasi untuk mencapai visi (Robbins and Judge, 2017).  Disamping itu, peran vital manajer atau pemimpin adalah merumuskan rencana yang lebih rinci, menciptakan struktur organisasi yang lebih efisien serta mengawasi kegiatan operasional sehari-hari. Untuk mencapai hal tersebut, para pemimpin atau manajer perlu untuk memahami sifat dan pengaruh kepemimpinan (leadership) serta faktor-faktor yang menentukan efektivitas hubungan kepemimpinan.

Robbins and Judge (2017) mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok menuju pencapaian sebuah visi atau tujuan yang ditetapkan.  Kepemimpinan erat kaitannya dengan manajemen.  Sekilas keduanya terlihat sama.  Mullins, (2016) sedikit membedakan kedua istilah tersebut.  Manajemen berkaitan dengan orang-orang yang bekerja dalam struktur organisasi terstruktur dan dengan peran yang ditentukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan organisasi.  Sedangkan kepemimpinan lebih ditekankan kepada perilaku interpersonal dalam konteks yang lebih luas serta sering dikaitkan dengan kemauan dan perilaku antusias dari followers (pengikut) nya.

Kepemimpinan (leadership) lahir sejalan dengan hadirnya manusia di dunia.  Namun sebagai bidang studi, kepemimpinan baru hadir pada sekitar abad ke-19.  Merujuk pada Sobirin (2020), studi awal kepemimpinan antara lain dikemukakan oleh Nahavandi yang mengacu kepada tulisan Thomas Carlyle pada tahun 1841 dengan judul Heros and Herp Worship, karya William James mengenai sejarah orang besar yang ditulis pada 1880 dan karya Galton pada tahun 1869 yang berjudul peran dari keturunan.

Tujuan Penulisan

Studi tentang kepemimpinan terus berkembang dan melahirkan berbagai teori.  Dari berbagai teori kepemimpinan tersebut, tiga teori utama kepemimpinan antara lain : (1) Traits Theory atau Teori Sifat, (2) Behaviour Theory atau Teori Perilaku dan (3) Contigency Theory atau Teori Kontingensi.  Tulisan tidak membahas ketiga teori kepemimpinan tersebut namun lebih fokus membahas teori kepemimpinan kontingensi menurut Fred E Fiedler.

PEMBAHASAN

Teori Kontingensi

Teori kontigensi mempunyai landasan asumsi bahwa perilaku seseorang dalam memimpin ada kemungkinan cocok untuk situasi tertentu, namun belum tentu cocok untuk situasi lain.  Meminjam istilah Robbins and Judge (2017), melihat pada pengaruh situasional, gaya kepemimpinan (x) akan tepat pada situasi (a), sedangkan kondisi (b) akan tepat apabila ditangani oleh gaya kepemimpinan (y).  Dengan demikian, secara singkat dapat dikatakan bahwa teori kepemimpinan kontingensi adalah teori kepemimpinan yang mempertimbangkan situasi sebagai penentu keberhasilan kepemimpinan (Sobirin, 2020).  Hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar di atas menjelaskan mengenai teori kepemimpinan kontigensi dimana keberhasilan seseorang dalam memimpin ditentukan oleh sifat atau perilaku serta situasi yang ada, tidak hanya ditentukan oleh sifat atau perilakunya saja sebagaimana pendekatan universal.  Hal ini berarti bahwa sifat atau perilaku tertentu hanya cocok untuk situasi tertentu pula.  Dengan demikian, teori kontingensi berasumsi bahwa no one best way (tidak ada satu cara terbaik) untuk model leadership.  Model kepemimpinan tersebut tergantung kepada kecocokan situasi.

Secara tidak langsung, sebagaimana terlihat dalam gambar di atas, faktor penting dalam teori kontingensi adalah situasi dan follower (pengikut).  Menurut teori ini, faktor-faktor yang mempengaruhi situasi dalam pengaruhnya terhadap kepemimpinan efektif adalah tugas, struktur, konteks dan lingkungan.  Di sisi lain, faktor-faktor yang berkaitan dengan follower (pengikut) yang akan mempengaruhi efektivitas kepemimpinan adalah kebutuhan, kematangan, pelatihan dan kohesivitas para pengikut.

Teori kepemimpinan kontingensi berkembang cukup dinamis.  Sobirin (2020) mengemukakan bahwa teori ini antara lain dikembangkan oleh Fred E Fiedler, Paul Hersey dan Keneth Blanchard, Robert House, Vroom dan Jago. Sebagaimana disebutkan dalam tujuan penulisan di atas, teori yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah teori kontingensi dari Fred E Fiedler.

Teori Kontingensi Fred E Fiedler

Pemikiran dasar dari teori kepemimpinan yang dikembangkan oleh Fred E Fiedler adalah harus ada kecocokan antara gaya kepemimpinan dengan situasi yang paling menguntungkan.  Prasyarat tersebut harus terpenuhi untuk mencapai kepemimpinan yang akan memberikan hasil yang diharapkan.  Jika prasyarat tersebut tidak terpenuhi – terjadi ketidakcocokan antara gaya kepemimpinan dengan situasi – maka hasil yang diharapkan dari kepemimpinan tersebut tidak akan tercapai.

Ketidaksesuaian antara gaya kepemimpinan dan situasi tersebut masih terbuka untuk terus diperbaiki karena pemimpin masih mempunyai kesempatan untuk melakukan review (kaji ulang) mengenai gaya kepemimpinannya sekaligus menelaah situasi organisasinya supaya situasi dan gaya kepemimpinannya menjadi sinkron kembali dan bisa mencapai hasil yang diharapkan.  Dengan demikian, dimensi utama dari teori kontingensi Fiedler ini ada dua hal, yaitu leadership style (gaya kepemimpinan) dan situasi.

Dimensi utama dalam kaitan dengan gaya kepemimpinan, ada dua konsep dasar yang dikembangkannya yaitu : (1) pemimpin yang berorientasi orang, dan (2) pemimpin yang berorientasi tugas.  Teori ini melihat lebih mengarah kepada orientasi seorang pemimpin tersebut, apakah lebih mengarah kepada pemimpin yang berorientasi orang atau tugas.  Untuk mengukur dominan kearah mana orientasi pemimpin tersebut, Fiedler menyusun 16 kuisioner bipolar dengan skala 8.  Kuisioner tersebut dikenal dengan sebutan Least Preferred Coworker (LPC).  16 perilaku dalam LPC Fiedler tersebut terdiri dari :

Dari 16 hal bipolar di atas, kemudian dihitung, jika nilai LPC-nya tinggi, maka gaya kepemimpinan orang tersebut lebih berorientasi pada orang.  Sebaliknya, jika nilai LPC-nya rendah, hal itu menunjukkan gaya kepemimpinan seseorang berorientasi tugas.

b.   Situasi

Terkait dengan situasi, teori Fiedler menjelaskan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang mampu mencocokkan gaya kepemimpinan dengan situasi yang paling menguntungkan.  Dengan demikian, pemimpin yang efektif tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat LPC yang tinggi (gaya kepemimpinan berorientasi orang)  atau rendah (gaya kepemimpinan berorientasi tugas), namun sangat tergantung kepada situasi yang paling menguntungkan.

Mengingat efektivitas kepemimpinan sangat tergantung kepada situasi yang paling menguntungkan, maka pada situasi tertentu, pemimpin dengan LPC tinggi akan lebih efektif tetapi pada situasi lain, pemimpin dengan LPC rendah akan lebih efektif.  Variabel atau faktor-faktor yang menentukan situasi yang paling menguntungkan ada tiga hal, yaitu:

  1. Apakah hubungan antara pimpinan dengan pengikutnya relatif baik atau buruk,
  2. Apakah tugas yang harus dikerjakan lebih terstruktur atau tidak terstruktur,
  3. Apakah posisi kekuasaan pemimpin relatif kuat atau lemah.

Dari model atau instrumen yang dikembangkan Fiedler tersebut disimpulkan bahwa situasi yang paling menguntungkan adalah situasi dimana hubungan pemimpin dan bawahan sangat baik, tugas-tugasnya sangat terstruktur dan posisi kekuasaan sangat kuat.  Di sisi lain, situasi yang paling tidak menguntungkan adalah situasi dimana hubungan pemimpin dengan bawahan sangat buruk, tugas-tugas tidak terstruktur dan posisi pemimpin sangat lemah.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa efektitivitas kepemimpinan teori kontigensi Fiedler ini sangat tergantung kepada situasi.  Hasil pengujian Fiedler mengenai hubungan antara skor (nilai) LPC dengan situasi menemukan bahwa pemimpin yang memiliki nilai LPC tinggi akan sangat efektif pada situasi yang moderat. Untuk pemimpin yang nilai LPC nya rendah akan sangat efektif pada situasi yang sangat menguntungkan atau situasi yang sangat tidak menguntungkan.

Teori Fiedler ini memberikan implikasi yang penting untuk seleksi dan training kepemimpinan dalam organisasi.  Implikasinya adalah seseorang yang akan menempati posisi kepemimpinan dalam organisasi sebaiknya dinilai style atau orientasi kepemimpinannya (berorientasi orang atau tugas) supaya bisa ditempatkan pada posisi pekerjaan yang sesuai dengan orientasinya.  Selain orientasi kepemimpinan, situasi kepemimpinan juga harus dinilai, apakah situasi yang paling menguntungkan, moderat atau paling tidak menguntungkan.

Pemimpin yang terlihat kesulitan pada situasi yang ada, berdasarkan teori Fiedler akan lebih baik jika dipindahkan ke tempat lain yang situasinya cocok.  Menurut Fiedler dalam Sobirin, (2020), mengubah orientasi kepemimpinan sangat sulit sehingga tidak disarankan untuk mengubahnya jika tidak cocok di suatu tempat. Kemungkinan yang paling bisa dilakukan adalah melakukan penataan ulang pekerjaan (job re-engineering) antara lain dengan mengubah struktur tugasnya.

Prasyarat Keberhasilan Teori Kontigensi di Perusahaan

Berdasarkan teori kontingensi Fiedler yang sudah dijelaskan di atas, maka prasyarat agar teori ini dapat berhasil diterapkan pada perusahaan adalah kemampuan manajemen dalam memilih pemimpin yang sesuai atau cocok antara gaya atau orientasi kepemimpinannya dengan situasi yang dihadapi.  Dengan demikian, langkah pertama yang harus dilakukan manajemen adalah melakukan assessment (penilaian) terhadap semua pimpinan atau calon pimpinan.  

Langkah kedua adalah melakukan penilaian situasi terhadap seluruh unit atau bagian.  Dari hasil penilaian tersebut, kemudian dilakukan penempatan pimpinan (manajer) di setiap bagian sesuai dengan kecocokan antara orientasi kepemimpinannya dengan situasi bagian yang ada.

Dengan mengacu kepada teori Fiedler, maka pimpinan yang mempunyai nilai LPC tinggi harus ditempatkan pada suatu bagian yang situasinya moderat.  Pimpinan yang mempunyai nilai LPC rendah akan cocok ditempatkan pada suatu bagian yang situasinya sangat menguntungkan atau sangat tidak menguntungkan.  Jika ada pimpinan yang sudah ditempatkan pada suatu bagian dimana orientasi kepemimpinannya kurang cocok dengan bagian tersebut, maka yang harus dilakukan adalah mencoba melakukan penataan ulang struktur tugas dibagian tersebut.

KESIMPULAN

Teori kepemimpinan kontingensi menjelaskan bahwa keberhasilan seseorang dalam memimpin ditentukan oleh sifat atau perilaku serta situasi yang ada.  Hal tersebut mengandung pengertian bahwa sifat atau perilaku tertentu hanya cocok untuk situasi tertentu.

Pemikiran dasar dari teori kepemimpinan Fiedler adalah harus ada kecocokan antara gaya kepemimpinan dengan situasi yang paling menguntungkan.  Jika terjadi ketidakcocokan antara gaya kepemimpinan dengan situasi, maka hasil yang diharapkan dari kepemimpinan tersebut tidak akan tercapai.

Ada dua dimensi utama dalam  dalam kaitan dengan gaya kepemimpinan Fiedler, yaitu pemimpin yang berorientasi orang dan pemimpin yang berorientasi tugas.  Kedua orientas tersebut diukur dengan 16 indikator bipolar dengan skala 8 yang kemudian dikenal sebagai Least Preferred Coworker (LPC).  Jika nilai LPC-nya tinggi, maka gaya kepemimpinan orang tersebut lebih berorientasi pada orang.  Sebaliknya, jika nilai LPC-nya rendah, hal itu menunjukkan gaya kepemimpinan seseorang yang berorientasi tugas.

Pemimpin yang efektif tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat LPC yang tinggi atau rendah, namun sangat tergantung kepada situasi yang paling menguntungkan.  Dengan demikian, pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang mampu mencocokkan gaya kepemimpinan dengan situasi yang paling menguntungkan.  

Situasi yang paling menguntungkan adalah situasi dimana hubungan pemimpin dan bawahan sangat baik, tugas-tugasnya sangat terstruktur dan posisi kekuasaan sangat kuat.  Di sisi lain, situasi yang paling tidak menguntungkan adalah situasi dimana hubungan pemimpin dengan bawahan sangat buruk, tugas-tugas tidak terstruktur dan posisi pemimpin sangat lemah.

Teori Fiedler ini memberikan implikasi yang penting untuk seleksi dan training kepemimpinan dalam organisasi.  Dengan demikian maka prasyarat agar teori ini dapat berhasil diterapkan pada perusahaan adalah kemampuan manajemen dalam memilih pemimpin yang sesuai atau cocok antara gaya atau orientasi kepemimpinannya dengan situasi yang dihadapi.


-----------------------------------------------
*Diskusi ke-7, Mata Kuliah Perilaku Organisasi


DAFTAR PUSTAKA
  • Mullins, L. J. (2016). Management and Organisational Behaviour (11th ed.). Pearson.
  • Robbins, Stephen P., and Judge, T. A. (2017). Perilaku Organisasi (16th ed.). Jakarta:  Salemba Empat.
  • Sobirin, A. (2020). Perilaku Organisasi (2nd ed.). Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.


0 comments

Subscribe to Our Newsletter