KEPUASAN KERJA (JOB SATISFACTION) - xplorealitas

www.explorealitas.com

Ad Placement

Ad Placement

KEPUASAN KERJA (JOB SATISFACTION)

Kajian Teori Singkat

Kepuasan merupakan sesuatu yang relatif.  Demikian pula halnya dengan kepuasan kerja (job satisfaction), bagi masing-masing orang akan berbeda.  Secara umum, menurut Fattah (2017), kepuasan kerja adalah suatu tingkat kesenangan atau sikap dan emosional positif sebagai hasil penilaian terhadap pekerjaan yang telah dilakukan.  Pengertian atau definisi kepuasan kerja yang disampaikan oleh beberapa ahli antara lain sebagai berikut (Fattah, 2017):

  • Pengertian job satisfaction menurut Jex adalah perasaan positif karyawan yang berpengaruh terdahap pekerjaan atau situasi pekerjaan.
  • McKenna mengaitkan kepuasan kerja dengan seberapa jauh harapan pribadi karyawan di tempat kerja sesuai dengan hasil yang dicapai.
  • Wexley dan Yuki melihat kepuasan kerja adalah cara seorang pegawai merasakan pekerjaannya.
  • Robbins & Judge melihat bahwa kepuasan kerja menggambarkan perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari evaluasi karakteristiknya.
  • Newstrom menjelaskan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan dan emosi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan pegawai ketika melihat pekerjaan mereka.
  • McShane & Gilnow mengemukakan bahwa kepuasan kerja adalah evaluasi seseorang terhadap pekerjaan dan suasana kerjanya.

Dampak dari kepuasan kerja menurut Robbins and Judge (2017) bisa meliputi tujuh hal berikut : (1) job satisfaction and job performance, (2) job satisfaction and organizational citizenship behavior, (3) job satisfaction and absenteeism, (5) job satisfaction and turnover, (6) job satisfaction and workplace deviance, dan (7) managers “often don’t get” it.  

Sebagai suatu hal yang lebih bersifat perasaan atau sikap, pengungkapan karyawan tehadap kepuasan atau ketidak puasan kerja terbagi dalam dua dimensi yaitu konstruktif vs destruktif dan aktif vs pasif.  Dimensi tersebut didefinisikan sebagai berikut :

  • Keluar (exit), yaitu ketidakpuasan yang diungkapkan melalui perilaku yang diarahkan dengan meninggalkan organisasi.
  • Suara (voice), yaitu ketidakpuasan yang diungkapkan melalui upaya-upaya aktif dan konstruktif untuk memperbaiki kondisi.
  • Kesetiaan (loyalty), yaitu ketidakpuasan yang diungkapkan dengan cara pasif menunggu keadaan membaik.
  • Pengabaian (neglect), yaitu ketidakpuasan yang diungkapkan dengan cara membiarkan kondisi memburuk.

Menurut George and Jones (2008) dalam Fattah (2017), ada empat faktor utama yang menentukan kepuasan kerja, yaitu : 

  • kepribadian (personality), yaitu enduring ways dari seseorang memiliki perasaan, berpikir dan berperilaku.
  • nilai (values), yaitu nilai-nilai kerja intrinsik, nilai-nilai kerja ekstrinsik dan nilai-nilai etis.
  • situasi kerja (work situation), yaitu pekerjaan itu sendiri, rekan kerja, supervisor dan bawahan, kondisi pekerjaan fisik, jam kerja, gaji dan keamanan kerja.
  • pengaruh sosial (social influence), yaitu rekan kerja, kelompok dan budaya.

Sementara itu Luthans (2008) dalam Fattah (2017) mengungkapkan lima dimensi karakterisktik kepuasan kerja yang mempengaruhi karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya, yaitu : 

  • pekerjaan itu sendiri, yaitu pekerjaan yang menarik, mempunyai kesempatan untuk belajar dan kesempatan untuk menerima tanggung jawab; 
  • gaji yaitu jumlah kompensasi yang diterima sesuai dengn yang dianggap pantas bagi karyawan; 
  • kesempatan promosi, yaitu kesempatan untuk maju atau promosi jabatan dalam organisasi; 
  • pengawasan yaitu kemampuan atasan untuk memberikan bantuan teknis dan dukungan perilaku; 
  • rekan kerja, yaitu rekan kerja yang pandai memberikan dukungan secara teknis maupun secara sosial.

Salah satu penelitian yang melihat faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah penelitan yang dilakukan Fattah (2017).  Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa budaya organisasi berpengaruh langsung positif terhadap kepuasan kerja. Faktor lainnya adalah perilaku pemimpin dimana faktor ini berpengaruh langsung dan positif terhadap kepuasan kerja. Faktor ketiga yang berpengaruh langsung terhadap kepuasan kerja adalah efikasi diri dimana berpengaruhnya secara langsung dan positif.  Fattah (2017) membukukan hasil penelitiannya menjadi sebuah buku dengan judul : Kepuasan Kerja dan Kinerja Pegawai: Budaya Organisasi, Perilaku Pemimpin dan Efikasi Diri.

Pembahasan

Hal yang akan ditelaah pada kesempatan kali ini adalah : “mengapa karyawan tidak puas di tempat kerja, apakah karena tempat mereka bekerja atau organisasinya yang tidak peduli dengan kepuasan kerja karyawan ? “

Kajian teori singkat di atas, menjelaskan mengenai defisini kepuasan kerja dan juga faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan.  Dari penjelasan tersebut, faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah :

1) kepribadian (personality), 
2) nilai (values), 
3) pekerjaan itu sendiri,
4) gaji atau salary,
5) kesempatan promosi,
6) pengawasan (supervision)
7) rekan kerja

Dengan demikian, kepuasan kerja seseorang dalam suatu organisasi tidak hanya dipengaruhi oleh tempat karyawan bekerja dan organisasi tempatnya bekerja saja.  Ada faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.  Kepribadian pegawai juga mempunyai pengaruh terhadap kepuasan kerja bahkan boleh jadi pengaruhnya positif dan signifikan.  

Walaupun misalnya seseorang yang digaji besar di suatu organisasi, belum tentu yang bersangkutan akan merasa puas apabila yang bersangkutan ditempatkan di posisi atau jabatan yang tidak cocok dengan kepribadiannya.  Misalnya, jika pegawai yang introvertion (introvert) ditempatkan di bagian marketing, yang bersangkutan akan mengalami depresi karena kurang mampu menghadapi berbagai macam karakteristik client, pada akhirnya yang bersangkutan akan mencari organisasi baru yang lebih cocok dengan kepribadiannya.

Faktor dominan lain adalah gaji (salary).  Jika kepribadian pegawai relatif cocok atau jika pegawai bisa menyesuaikan dengan tempat kerjanya, faktor gaji (kompensasi atau benefit) yang diperoleh akan menjadi faktor signifikan terhadap kepuasan kerjanya.  Mereka akan cenderung lebih fokus bekerja karena sudah relatif puas dengan kompensasi yang diberikan perusahaan.  

Pada titik tertentu, setelah gaji dirasakan cukup, maka kesempatan promosi merupakan faktor yang diinginkan dalam kepuasan kerjanya.  Mereka ingin mengaktualisasikan dirinya dengan mendapatkan kesempatan promosi jabatan yang lebih tinggi.  

Faktor lain seperti pengawasan pimpinan dan rekan kerja juga tidak bisa diabaikan dalam melihat kepuasan kerja karyawan.  Hasil penelitian Fattah (2017) menunjukkan bahwa perilaku pemimpin berpengaruh langsung dan positif terhadap kepuasan kerja.  Hasil ini menunjukkan bahwa semakin baik perilaku pemimpin, maka semakin tinggi kepuasan kerja karyawan. 


Daftar Pustaka

  • Fattah, H. A. H. (2017). Kepuasan Kerja dan Kinerja Pegawai: Budaya Organisasi, Perilaku Pemimpin dan Efikasi Diri. Yogyakarta: Elmatera.
  • Robbins, Stephen P., and Judge, T. A. (2017). Perilaku Organisasi (16th ed.). Salemba Empat.


2 comments

  1. Sukron pak ustad Ahmad Husna, sukses terus karyanya

    ReplyDelete
  2. Siap Om, makasih udah berkunjung dan berkenan baca :))

    ReplyDelete


EmoticonEmoticon

Subscribe to Our Newsletter