Makna Warna dan Suara - xplorealitas

www.explorealitas.com

Ad Placement

Ad Placement

Makna Warna dan Suara

Saat interview dengan calon pegawai baru yang akan masuk melalui jalur Officer Develpment Program (ODP), seorang kawan bertanya seperti ini:   bagaimana cara menerangkan atau menjelasakan warna kepada saudara kita yang tuna netra ?

Saya yang duduk di sebelah beliau yang juga menjadi salah satu penanya, surprised dengan pertanyaannya itu. Gile, pertanyaan itu sulit banget.  Saya juga ikut berpikir, apa jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu.

Saya jadi bertanya, apa sebenarnya hakekat dari warna itu ? agak lama juga untuk menemukan jawabannya.  Sampai pada suatu saat, tatkala sedang membaca buku "Energi Dzikir Alam Bawah Sadar" (Agus Mustofa, Padma Press Surabaya), sedikit terkuatklah apa itu hakekat warna.

Penjelasan mengenai warna ini bisa kita temukan jika kita melihat dalam skala mikrokosmos.  Dari perspektif ini, kita bisa menjawab pertanyaan ini:  "Apakah sebuah benda yang berwarna hijau itu benar-benar berwarna hijau ?".  Lalu, apa sebenarnya yang kita sebut warna itu ?

Dari perspektif dalam skala mikrokosmos itu, kita bisa tahu bahwa hakikatnya warna hijau itu tidak lebih dari getaran benda yang menghasilkan gelombang dengan panjang 495-570 nanometer.  Oya, 1 namometer itu sama dengan 1 kali 10 pangkat negatif sembilan atau dengan bahasa lain 1 nanometer itu 1 dibagi satu milyar (1: 1.000.000.000). Ukuran yang lumayan sangat kecil.

Jika kita udah tahu hakikat warna hijau, maka akan tahu juga hakikat warna-warna lainnya.  Warna biru adalah getaran benda dengan panjang gelombang 450-495 nm.  Sedangkan warna ungu adalah getaran benda dengan panjang gelombang 380-450 nm.  Adapun warna kuning merupakan getaran benda dengan panjang gelombang 570-590 nm.  Warna merah adalah getaran benda yang mempunyai panjang gelombang 620-750 nm.

Jika warna adalah getaran dengan panjang gelombang dengan ukuran nanometer tertentu, lantas siapakah yang "menciptakan" warna-warna tersebut ?  Menurut ahlinya, ternyata yang "menciptakan" warna itu adalah mata dan otak.  Bukan benda yang berwarna, melainkan mata kitalah yang mengubah getaran itu menjadi sinyal-sinyal listrik yang dikirim ke otak.  Kemudian, otak mempersepsi itu sebagai warna hijau, biru, merah, dan warna-warna lain.

Penjelasan mengenai warna ini bisa kita kembangkan kepada hal-hal lain, suara merdu misalnya.  Apa sih suara merdu itu ?  Suara merdu hakeketnya "hanyalah" getaran benda yang berkisar antara 20-20.000 Hz. 

Terus, mengapa getaran-getaran itu jadi suara merdu ? Telinga kitalah yang mengubah getaran benda melalui mekanisme gendang telinga yang diteruskan ke otak. Kemudian, otak mempersepsi hal itu sebagai suara.  Jika harmonis terasa merdu.  Jika disharmoni terdengar fals.  Maka, yang "menciptakan" suara itu sebenarnya adalah sistem pendengaran yang berpusat di otak. 

Selain warna dan suara, tentunya hal itu bisa kita perluas ke segalam macam realitas di sekitar kita, misalnya aroma wangi dan busuk, rasa manis dan asin, kondisi kasar dan halus dan sebagainya.

Seluruh alam semesta pada hakekatnya adalah samudera getaran.  Mulai dari penyusun yang paling kecil sampai kepada yang paling besar, semua bergetar, tidak ada yang tidak bergetar.  Partikel-partikel kuantum dan quark bergetar.  Atom-atom dan molekuk bergetar.  Sel-sel tubuh bergetar.  Jantung dan organ-organ tubuh lainnya juga bergetar.  Benda-benda di sekitar kitapun bergetar.  Bintang, bulan, matahari dan planet-planet juga bergetar.

Getaran-getaran itulah yang tertangkap oleh panca indera kita, sehingga membentuk "gambar" alam semesta seperti yang tertangkap oleh otak.

Maka tak bisa kita bayangkan jika manusia tidak memiliki pancar indera, maka alam semesta ini pun menjadi berbeda.

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ  

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?  [QS Ar-Rohman (55) : Ayat 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, dan 77].


Referensi:
Agus Mustofa.  Energi Dzikir Bawah Sadar.  Surabaya: Padma Press. 


0 comments

Subscribe to Our Newsletter