The Five-Stage and Punctuated-Equilibrium Model dan Aplikasinya pada Perusahaan - xplorealitas

www.explorealitas.com

Ad Placement

Ad Placement

The Five-Stage and Punctuated-Equilibrium Model dan Aplikasinya pada Perusahaan

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Keberhasilan pencapaian kinerja perusahaan selain ditentukan oleh faktor individu di dalam organisasi tersebut, ditentukan pula oleh kerjasama tim.  Suhendi dan Anggara (2010) mendefinisikan kerjasama tim sebagai suatu kelompok yang memiliki ikatan dan interaksi yang harmonis yang dapat memacu terjadinya perubahan, pertumbuhan dan perkembangan pribadi maupun organisasi.  

Adanya kerjasama tim yang baik diharapkan dapat menghasilkan sinergi positif melalui upaya terkoordinasi yang pada akhirnya mampu menghasilkan tingkat kinerja yang lebih tinggi.  Hal tersebut bisa terjadi karena kerjasama memungkinkan seseorang melakukan apa yang tidak bisa ia lakukan serta meningkatkan segala hal yang dimilikinya (Maxwell, 2014).

Namun demikian tidak semua tim dapat menunjang kinerja, menurut Robbins and Judge (2017), ada empat faktor yang secara signifikan sangat terkait erat dengan kinerja tim, yaitu : (1) sumberdaya yang memadai, (2) kepemimpinan yang efektif, (3) iklim kepercayaan, serta (4) evaluasi kinerja dan sistem pemberian imbalan yang mencerminkan kontribusi tim.  

Selanjutnya, Robbins and Judge (2017) mengemukakan bahwa untuk membentuk tim yang baik, perlu memperhitungkan variabel-variabel sebagai berikut: (1) kemampuan para anggota, (2) kepribadian para anggota, (3) alokasi aturan yang jelas, (4) keragaman para anggota, (5) ukuran tim, dan (6) keinginan atau pilihan para anggota.

Tim yang dapat menunjang kinerja perusahaan atau bisa dikatakan juga sebagai tim yang baik, tidak lahir dan muncul begitu saja, namun melalui suatu proses tertentu dan terkadang  memerlukan waktu yang cukup panjang.  Ada cukup banyak halangan dan tantangan dalam perkembangan tim untuk menjadikan tim atau kelompok tersebut sebagai tim yang efektif.  

Sobirin (2020) mengemukakan bahwa tim atau kelompok juga mengalami siklus hidup sebagaimana organisasi.  Siklus hidup yang dimulai dari kelahiran, masa remaja, tumbuh menjadi dewasa, mencapai kemapanan yang kemudian seringkali setelah mencapai kemapanan, mengalamai masa penurunan.

Oleh karena itu menarik untuk dikaji bagaimana siklus hidup suatu tim, apakah siklusnya sesuai dengan tahapan-tahapan yang disebutkan di atas, berapa lama setiap tahapan dilalui oleh suatu tim dan berapa banyak jumlah tahapannya.  Ada cukup banyak teori yang mengkaji siklus suatu tim, diantaranya the five-stage model dan the punctuated-equilibirium model.

Tujuan Penulisan

Berdasarkan latar belakang yang disampaikan di atas, tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut:

  • Pengertian mengenai the five-stage model berikut penjelasan dan contohnya sesuai konteks organisasi dimana penulis bekerja.
  • Pengertian mengenai the punctuated-equilibirium model berikut penjelasan dan contohnya sesuai konteks organisasi dimana penulis bekerja.


PEMBAHASAN

The Five-Stage Model

Untuk memahami perkembangan kelompok, diperlukan model yang merupakan kerangka kerja untuk memahaminya.  The five-stage model merupakan salah satu framework yang berguna untuk memahami perkembangan kelompok (Robbins and Judge, 2017).  

Model ini pertama kali dikemukakan oleh Bruce W. Tuckman pada tahun 1965.  Model the five-stage group development (lima tahap pengembangan kelompok) merupakan model tahapan perkembangan kelompok yang terdiri dari tahapan-tahapan berikut : 

a. Tahap pembentukan (forming stage), 
b. Tahap pertengkaran atau mempeributkan (storming stage), 
c. Tahap pembentukan norma kesepahaman (norming stage),
d. Tahap melakukan tindakan (performing stage),
e. Tahap pengalihan orientasi atau tahap pembubaran (adjourning stage)

Kelima tahapan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1.  Model the five-stage group development dari Tuckman

Penjelasan dari setiap tahapnya adalah sebagai berikut :

a.  Tahap pembentukan (forming stage)

Tahap pembentukan merupakan tahapan dimana terjadi sejumlah besar ketidakpastian mengenai tujuan,  struktur dan kepemimpinan kelompok.  Pada tahap ini, setiap anggota kelompok masih mengalami kebingungan dan ketidakpastian mengenai bagaimana masing-masing anggota kelompok berperilaku dan bertindak.  

Tahap ini akan selesai ketika para anggota menemukan kejelasan dan mulai berpikir bahwa yang berangkutan adalah bagian dari kelompok tersebut.

b.  Tahap pertengkaran atau mempeributkan (storming stage)

Tahap storming adalah salah satu konflik dalam kelompok. Pada tahap ini mulai munculnya konflik internal.  Para anggota sudah menerima keberadaan kelompok namun menentang hambatan yang memaksakan pada individualitas. 

Disamping itu, ada juga konflik tentang siapa yang akan mengendalikan kelompok atau dengan kata lain ada beberapa anggota yang menolak dipimpin seseorang dengan berbagai alasan.  Namun, ketika tahap ini selesai, akan terdapat hierarki kepemimpinan yang relatif jelas di dalam kelompok.

c.  Tahap menyusun norma (norming stage)

Pada norming stage akan muncul suasana kebersamaan. Pada tahap ini, akan berkembang hubungan yang erat serta anggota-anggota kelompok akan menunjukkan kekompakkan.  Selain itu, pada tahap ini sudah muncul rasa identitas kelompok yang kuat.  Para anggota sudah mau mengidentifikasikan diri kepada kelompok sehingga masing-masing anggota sudah memiliki tanggung jawab yang sama terhadap kelangsungan kelompok.  

Pada tahap ini, sudah dominan “kita” nya daripada “saya” nya.  Hal ini menunjukkan bahwa para anggota sudah bisa menerima keberadaan kelompok, sudah menyadari dan mengetahui apa yang akan dicapai kelompok dan sudah mengetahui pula bagaimana cara mencapainya.

d. Tahap melakukan tindakan (performing stage)

Pada tahap ini, saatnya semua anggota tim untuk bekerja yaitu mengerjakan tugas-tugas tim yang menjadi tujuan didirikannya organisasi.  Hal itu bisa terjadi karena pada tahap ini, semua permasalahan yang berkaitan dengan eksistensi kelompok sudah selesai.  Pada performing stage, energi kelompok sudah berpindah dari mengenal dan memahami satu sama lain menjadi lebih fokus dalam mengerjakan tugas yang telah ditetapkan.  

Sistem komunikasi sudah terbuka, saling bekerja sama antar anggota dan perilaku anggota untuk saling membantu sangat menonjol, sebagai tanda bahwa iklim kerja di tahap ini sudah kondusif.  Selain itu, komitmen para anggota dan kohesivitas mencapai titik tertinggi sehingga kerja tim lebih dominan daripada kerja perorangan.

e.  Tahap pengalihan orientasi atau tahap pembubaran (adjourning stage)

Tahap adjourning merupakan tahap alih orientasi karena semua tugas sudah diselesaikan dengan baik dan tujuan didirikannya kelompok sudah tercapai.  Pada tahap ini, anggota-anggota kelompok seringkali merasa ada sesuatu yang hilang seperti sudah tidak ada lagi yang bisa diperbuat, setelah para anggota bekerja keras dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.  

Pada masa ini, para anggota kelompok melakukan selebrasi dalam rangka mengakhiri semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawab bersama dan memulai sesuatu yang baru dengan aturan dan perilaku yang baru pula. Masing-masing anggota kembali ke siklus awal, yaitu tahap independen.

Robbins dan  Judge (2017) memberi contoh yang lebih jelas bahwa untuk kelompok kerja yang permanen, performing stage adalah tahap terakhir dalam pengembangan.  Namun, untuk komite-komite, tim, satuan tugas dan kelompok sama yang bersifat sementara yang memiliki tugas yang terbatas untuk mengerjakan, adjourning stage adalah untuk mengakhiri kegiatan dan mempersiapkan diri untuk pembubaran.  

Kondisi setiap anggota kelompok pada tahap pembubaran ini berbeda-beda, ada yang optimis dan bahagia atas pencapaian kelompok, namun ada juga yang lebih tertekan karena kehilangan persahabatan dan pertemanan yang diperoleh selama kelangsungan kerja kelompok.

Terkait dengan five-stage model ini, Robbins dan  Judge (2017) menyimpulkan beberapa hal berikut:

  • Suatu kelompok yang benar-benar efektif tidak mesti melalui empat tahap pertama dari model ini.  Penyebab efektifitas suatu kelompok lebih kompleks dari sekedar harus melalui tahapan-tahapan tersebut.
  • Kelompok yang mampu mencapai kinerja yang tinggi karena mempunyai pemahaman yang kuat mengenai tujuan dan strategi.  Kelompok yang mempunyai pemahaman yang kurang mengenai tujuan, kinerjanya akan cenderung memburuk dari waktu ke waktu.
  • Tidak ada kelompok yang selalu melanjutkan dengan jelas dari satu tahap ke tahap berikutnya.  Storming dan performing stage dapat terjadi secara bersamaan dan bahkan kelompok dapat mengalami kemunduran ke tahapan sebelumnya.

Contoh Five-Stage dalam Konteks Organisasi Perusahaan

Salah satu contoh pengembangan kelompok (group development) yang akan dikaji dalam tulisan ini dalam kaitannya dengan five-stage model dalam konteks organisasi tempat penulis bekerja adalah pembentukan dan pengembangan Unit Usaha Asuransi Syariah dimana kebetulan penulis menjadi salah satu anggota tim pembentukan unit tersebut.  

Unit usaha ini merupakan unit usaha dari perusahaan induk yang khusus mengelola bisnis asuransi syariah.  Unit usaha tersebut harus dibuat tersendiri dan terpisah karena adanya perbedaan prinsip dasar antara asuransi syariah dan asuransi konvensional.

a.  Tahap forming

Tahap forming merupakan tahap pembentukan kelompok, dalam konteks contoh ini adalah tahapan pembentukan Unit Usaha Syariah.  Unit Usaha Syariah ini, secara formal  lahir pada tanggal 2 Juli 2002.  

Dalam proses pembentukan tim unit syariah ini, pada awalnya para anggota tim sering bertemu untuk mempelajari peluang dan tantangan yang dihadapi, kemudian bersepakat menentukan tujuan.  Tujuan yang ditetapkan antara lain untuk menangkap pasar asuransi syariah yang pada saat itu mulai berkembang dan belum ada unit usaha syariah selain Asuransi Takaful Umum sebagai kompetitor.  Setelah tujuan ditetapkan, kemudian ditentukan struktur organisasi beserta orang-orang yang mengisi struktur tersebut.

Pada awalnya, sebagian anggota tim masih mengalami kebingungan untuk bertindak dan berperilaku dalam organisasi baru tersebut.  Namun lambat laun perasaan kebingungan dan ketidakpastian berkurang signifikan dengan segera dibuatnya visi, misi berikut standard operating procedure (SOP) organisasi. 

Pembentukan visi, misi dan SOP tersebut diikuti dengan diskusi-diskusi dan sosialisasi, sehingga kebingungan dan ketidakpastian jauh berkurang.  Dalam waktu yang tidak terlalu lama, para anggota tim sudah merasa menjadi bagian dari Unit Usaha Syariah.

b.  Tahap storming

Tahap storming adalah salah satu konflik dalam kelompok. Pada tahap ini mulai munculnya konflik internal.  Para anggota sudah menerima keberadaan kelompok namun menentang hambatan yang memaksakan pada individualitas. Disamping itu, ada juga konflik tentang siapa yang akan mengendalikan kelompok atau dengan kata lain ada beberapa anggota yang menolak dipimpin seseorang dengan berbagai alasan.  Namun, ketika tahap ini selesai, akan terdapat hierarki kepemimpinan yang relatif jelas di dalam kelompok.

c. Tahap norming

Setelah konflik teratasi, suasana unit syariah menjadi lebih baik.  Hubungan antar anggota menjadi lebih erat dan sudah jauh lebih kompak. Terasa bahwa suasana kebersamaan sudah muncul.  Para anggota tim menjadi lebih percaya diri, mereka sudah bangga dengan organisasinya, “Unit Tripa Syariah”.  Identitas para anggota timnya juga sudah terlihat, antara lain menjadi lebih agamis, rapi, dan lebih sopan.

d.  Tahap performing

SOP sudah dipahami oleh masing-masing anggota tim, kepercayaan diri sudah tumbuh ditunjang dengan munculnya kebersamaan, maka tidaklah heran pertumbuhan bisnis unit syariah ini berkembang cukup baik.  Kontribusi laba terhadap unit induk (unit konvensional) cukup signifikan.  Pada tahun 2020 tercatat kontribusi labanya mencapai sekitar 30% dari total laba perusahaan.  Dengan pencapaian yang sangat baik ini, unit syariah ditargetkan menjadi perusahaan tersendiri (spin off) pada tahun 2024.

e.  Tahap adjourning

Tujuan unit sudah dicapai dengan baik antara lain dengan kontribusi laba yang cukup besar bagi organisasi induk (kantor pusat) nya.  Tahap berikutnya adalah perubahan atau alih orientasi unit syariah.  Perubahan orientasi signifikan akan terjadi pada tahun 2024 dimana unit syariah akan spin-off menjadi perusahaan tersendiri, terpisah dari asuransi konvensional, menjadi anak perusahaan asuransi TRIPA konvensional.  Setelah spin-off nanti, unit syariah ini akan kembali ke siklus awal sebagai perusahaan asuransi baru berbasis syariah.

The Punctuated-Equilibrium Model

Model ini pertama kali dikembangkan oleh Connie J. G Gersick.  Berbeda dengan model five-stage, model punctuated-equilibirum menyatakan bahwa perkembangan kelompok tidak terjadi secara berurutan (sequential) melainkan berkembang melalui pola keseimbangan yang tersela (punctuated equilibrium).  Menurut model ini, terbentuknya suatu kelompok bertujuan untuk menyelesaikan tugas yang dibatasi oleh waktu.  

Periode waktu tersebut dibagi menjadi dua fase, yaitu fase I dan fase II.  Dalam model ini tidak menggunakan tahap, namun fase dengan tujuan untuk menunjukkan periode waktu tertentu.  Diantara fase I dan fase II terdapat waktu sela (punctuated) yang merupakan masa transisi.  The Punctuated-Equilibrium Model dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.  The Punctuated-Equilibrium Model

Fase-fase tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

a.  Fase (Stage) I

Fase I merupakan bagian awal dari masa tugas dimana anggota-anggota kelompok mulai mendefinisikan tugas-tugas yang akan dikerjakan, kemudian dilanjutkan dengan menetapkan misi kelompok dimana misi ini cenderung tetap sampai dengan fase II dari siklus hidup kelompok tersebut.

Pada fase I ini terjadi keseimbangan awal yang berjalan agak lambat.  Namun keseimbangan inilah yang membuat kelompok tetap bisa eksis.  Dengan berjalannya waktu, sampai pada suatu saat tertentu para anggota kelompok mulai menyadari ada sesuatu yang terjadi yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya.  

Dengan kata lain, pada saat itu terjadi krisis yang memaksa mereka merubah cara menyelesaikan tugas jika ingin tugas-tugasnya selesai sesuai jadwal.  Krisis tersebut sering disebut masa transisi (punctuated).  Krisis tersebut bisa terjadi hanya sesaat (hitungan jam misalnya) atau bisa juga lebih lama lagi.

b.  Fase (Stage) II 

Fase II merupakan fase dimana para anggota kelompok meninggalkan cara berpikir lama dan mengadopsi perspektif baru untuk membentuk keseimbangan baru.  Terjadi perbedaan antara cara kerja fase II dengan fase I.  Dalam cara kerja pada fase II, para anggota kelompok dihadapkan pada aktifitas-aktifitas menggunung yang segera harus diselesaikan.

Contoh Punctuated-equilibrium model dalam Konteks Organisasi Perusahaan

Salah satu contoh model punctuated-equilibrium pada perusahaan tempat penulis bekerja adalah kondisi perusahaan saya itu sendiri.  Perusahaan menjalani fase I dengan waktu yang cukup panjang yaitu mulai dari sekitar tahun 1985 sampai pada dengan tahun 2014. Pada tahun 2014, perusahaan mengalami krisis. 

Kondisi krisis tersebut terjadi karena tingkat kesehatan keuangan perusahaan (Risk Based Capital atau RBC) di bawah ketentuan yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).  OJK mensyaratkan bahwa tingkat RBC perusahaan minimal 120%.  Pada tahun 2014 itu, tingkat RBC perusahaan lebih rendah dari ketentuan tersebut.

OJK mengharuskan perusahaan membuat langkah-langkah strategis penyehatan keuangan perusahaan dengan tenggat waktu (deadline) selama 12 bulan dan setiap tiga bulan memberikan laporan kemajuan (progress) kepada OJK.  Kondisi tersebut memaksa seluruh anggota tim (seluruh karyawan) beserta top management bekerja keras keluar dari krisis dengan cara-cara dan strategi baru.  Kalau tidak, perusahaan terancam dibekukan alias akan ditutup.

Dengan kerja keras seluruh tim yang dikomandoi oleh top management, perusahaan mampu keluar dari krisis dan menyelesaikan program penyehatan keuangan perusahaan sebelum deadline yang ditetapkan OJK.  Pada akhirnya, perusahaan mencapai keseimbangan baru sebelum batas waktu (deadline) yang ditetapkan oleh OJK.


DAFTAR PUSTAKA

  • Maxwell, J. C. (2014). Teamwork 101: Hal-hal yang Harus Diketahui oleh Para Pemimpin. Surabaya: PT Menuju Insan Cemerlang (MIC Publishing).
  • Mullins, L. J. (2016). Management and Organisational Behaviour (11th ed.). Pearson.
  • Robbins, Stephen P., and Judge, T. A. (2017). Perilaku Organisasi (16th ed.). Jakarta:  Salemba Empat.
  • Sobirin, A. (2020). Perilaku Organisasi (2nd ed.). Tangerang Selatan:  Universitas Terbuka.
  • Suhendi,  dan A. (2010). Perilaku Organisasi. Bandung: Pustaka Setia.


2 comments

  1. Assalamualaikum Pak Husna
    Keren Pak dan inspiratif.
    Pak mohon pencerahannya..utk tahapan storming,apakah akan selalu membawa dampak negatif pada organisasi dan bila storming telah dilewati apakah suatu organisasi akan selalu menjadi kondusif atau malah terlalu nyaman, sehingga membuat organisasi menjadi tdk berkembang.
    hatur nuhun pak dan wassalamualaikum.

    ReplyDelete
  2. Wa'alaikumussalam Pak Iwan.
    Pertama, kami ucapakan terima kasih sudah sudi berkunjung dan membaca tulisan sederhana ini.
    Kemudian, terkait dengan pertanyaan Pak Iwan, tahap storming akan berhasil dilalui dengan baik jika pemimpin yang ditunjuk di organisasi baru tersebut benar-benar berkualitas. Pemimpin yang punya leadership tinggi dan visioner akan berhasil melalui tahap ini dengan baik. Sebaliknya, jika kualitas pemimpin organisasi tersebut tidak mumpuni, maka suatu organisasi akan relatif sulit melewati tahap ini.

    ReplyDelete


EmoticonEmoticon

Subscribe to Our Newsletter