Trend Perkembangan dan Tantangan Studi Perilaku Organisasi - xplorealitas

www.explorealitas.com

Ad Placement

Ad Placement

Trend Perkembangan dan Tantangan Studi Perilaku Organisasi

Fokus utama dalam pembahasan studi perilaku organisasi adalah studi tentang saling pengaruh antar manusia dan aspek-aspek manusia yang relevan dengan organisasi. Titik sentralnya bukan sekedar manusia sebagai individu dan juga bukan sekedar manusia dalam kedudukannya sebagai kelompok (Sobirin, 2020).  

Pengertian tersebut sejalan dengan definisi yang disampaikan oleh Stepphen Robbins bahwa perilaku organisasi adalah suatu bidang studi yang menginvestigasi individu, kelompok dan struktur organisasi serta dampaknya terhadap perilaku organisasi.

Dilihat dari level analisisnya, studi perilaku keorganisasian dapat dilakukan melalui tiga unit berikut: (1) level individu, (2) level kelompok, dan (3) level organisasi.

Namun, selain ketiga level di atas, ada variable penting lain dalam menganalisis perilaku keorganisasian yaitu lingkungan eksternal.  Hal ini bisa terjadi karena manusia akan sulit untuk bertahan hidup dalam lingkungan yang terisolasi.  Manusia membutuhkan interaksi, baik dengan sesama dalam lingkungan organisasi maupun dengan mereka yang berada di luar organisasi.

Kecenderungan (trend) studi perilaku organisasi dapat dianalisa dari empat level analisa di atas, yaitu individu, kelompok, organisasi dan lingkungan eksternal.  Namun, nampaknya faktor ekstenal adalah faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi studi organisasi.  Contoh aktual faktor eksternal adalah adanya wabah pandemi covid-19.  Wabah ini merubah hampir seluruh tatanan kehidupan manusia, baik dalam level individu, kelompok maupun organisasi. 

Dalam level individu, setiap orang harus menerapkan protokol kesehatan antara lain mencuci tangan menggunakan sabun pada air yang mengalir, memakai masker dan menjaga jarak.  Menerapkan protokol ini pada tahap awal terasa sulit, namun karena wabah pandemi ini berkepanjangan, maka lama kelamaan setiap individu jadi terbiasa menerapkan protokol kesehatan tersebut dan pada akhirnya nanti hal ini akan menjadi kebiasaaan baru.  

Dampak dalam perubahan perilaku pada level individu akan berpengaruh signifikan terhadap perilaku level kelompok dan organisasi.  Protokol kesehatan dalam menjaga jarak telah merubah pola interaksi antar individu dan akan merubah juga pola interaksi dalam organisasi serta membuat perusahaan beradaptasi secara cepat dalam menghadapi pandemi ini. 

Bekerja dari rumah [Work from Home (WFH)] adalah sesuatu hal yang belum terbayangkan akan terjadi secara massive dan segera pada saat ini.  Adanya pandemi mempercepat terjadinya WFH tersebut.

Hal lain yang paling terasa dan terlihat adalah meroketnya penggunaan aplikasi zoom meeting untuk rapat-rapat semua organisasi.  Rapat-rapat atau diskusi-diskusi menjadi lebih efisien.  Pola rapat, diskusi atau gathering activity dengan aplikasi zoom atau sejenisnya ini dari sisi anggaran perusahaan akan jauh lebih murah dengan hasil yang relatif sama dengan pelaksanaan rapat tatap muka (offline). Hal ini tentu akan sangat membantu perusahaan dalam menurunkan biaya ditengah-tengah pertumbuhan bisnis yang stagnan.

Faktor eksternal pandemi covid-19 ditambah dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi menjadi faktor utama dalam trend dan perkembangan studi perilaku organisasi masa kini dan masa yang akan datang.

Adanya perubahan faktor eksternal tersebut menyebabkan para pimpinan organisasi khususnya pimpinan perusahaan (manajer) tidak bisa lagi mengelola organisasi dengan ilmu dan gaya seperti era sebelum pandemi dan teknologi informasi.  Para manajer harus cepat beradaptasi membuat stategi baru menyesuaikan dengan situasi dan kondisi terkini.  

Banyak contoh perusahaan yang sebelumnya bukan apa-apa karena tidak mempunyai asset yang besar, tiba-tiba melejit mengalahkan perusahaan sebelumnya yang sudah besar.  Contoh populer, perusahaan taksi Bluebird secara tidak terduga “dikalahkan” oleh Gojek atau Grab.

Organisasi didirikan pada dasarnya adalah untuk menciptakan nilai tambah yang berupa produk, jasa dan berbagai output lainnya yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan beberapa kelompok orang yang berbeda kepentingan, demikian disampaikan oleh Gareth Jones (1995).  

Proses pembentukan nilai tambah tersebut tidak bisa dilakukan hanya oleh organisasi saja, melainkan harus melibatkan pihak-pihak yang berbeda kepentingan.  Menurut Gareth Jones (1995), kelompok yang berbeda kepentingan tersebut disebut sebagai stakeholders (pemangku kepentingan).

Secara umum, stakeholders dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu (1) kelompok yang berada di dalam organisasi dan (2) kelompok yang berada di luar organisasi.  Salah satu stakeholders yang berada di luar organisasi adalah konsumen atau pelanggan (consumers).  Pada era saat ini, dalam organisasi perusahaan yang berorientasi laba, produk tidak lagi menjadi faktor utama (product driven) dalam pengambilan keputusan pemasaran.  

Eranya sudah berubah dari product driven-marketing, kemudian berubah menjadi customer-centric marketing dan human-centric marketing.  Dengan demikian, konsumen menjadi faktor eksternal penting yang menjadi pertimbangan utama organisasi perusahaan untuk berubah dan menyesuaikan diri.

Dengan perubahan fokus penjualan kepada konsumen, maka perubahan dalam perilaku konsumen akan merubah perilaku organisasi perusahaan jika organisasi tersebut ingin tetap bertahan dan berkembang.  Era saat ini adalah era dimana era didominasi oleh orang-orang atau generasi yang lahir antara tahun 1980-2000, yang lebih sering disebut generasi millenials.  

Yuswohady (2019) dalam bukunya yang berjudul "Millenials kilss everything" menjelaskan 50 produk yang "dibunuh" oleh milenials.  50 produk yang "dibunuh" atau produk-produk yang lama kelamaan akan hilang tersebut adalah: (1) waktu kerja dari jam 9 sampai dengan jam 5, (2) tempat kerja, (3) long-term employement, (4) pakaian kerja formal, (5) kepemilikan, (6) dapur, (7) brand, (8) brand loyalti, (9) iklan, (10) televisi, (11) group lawak, (12) agen perjalanan, (13) album foto, (14) jam tangan, (15) kamera, (16) kabel, (17) sabun batang, (18) game konsol, (19) soda, (20) call center, (21) short message services - SMS (22) kartu kredit, (23) cash, (24) bir, (25) mabuk, (26) film porno, (27) eye contact, (28) percakapan, (29) social skills, (30) kebersamaan keluarga, (31) mainan anal, (32) radio, (33) CD & music download, (34) musik rock, (35) celebrity endoser, (36) materialisme, (37) golf, (38) berlian, (39) sepatu high heels, (40) motor besar, (41) industri perminyakan, (42) menikah, (43) department store, (44) hijab yang sudah usang "jadul", (45) sedotan, (46) rokok kretek, (47) perpustakaan, (48) media cetak, (49) blog, dan (50) smartphone also kilss everything.

Namun yang menarik, begitu terjadi lagi perubahan eksternal yang ekstrim, seperti wabah pandemi covid-19 saat ini, industri atau produk yang sebelumnya diperkirakan akan perlahan hilang, pada era pandemi saat ini cenderung untuk bangkit kembali seperti televisi dan radio.  Hal ini terjadi karena perilaku orang atau konsumen lebih dominan di rumah dalam rangka menjaga tertular dari wabah,  efeknya adalah mencari hiburan yang salah satunya adalah televisi dan radio diluar channel youtobe.

Kondisi di atas menunjukkan bahwa faktor eksternal berubah dengan kecepatan luar biasa yang ditandai dengan adanya Volatility (bergejolak), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (komplesitas) dan Ambiguity (tidak jelas) atau yang lebih dikenal dengan VUCA.

Gejolak VUCA tersebut harus diantisipasi organisasi dengan VUCA lagi yaitu VUCA dalam makna Vision (visi, sesuatu yang hendak diwujudkan di masa yang akan datang), Understanding (pemahaman akan perubahan dan hal-hal yang perlu disiapkan), Clarity (kemampuan melihat masa dengan jelas dan yakin) dan Agility (kelincahan menghapi perubahan).

Studi perilaku organisasi adalah studi yang dinamis dan tantangan kedepannya antara lain adalah:

  1. Mengelola seluruh sumberdaya untuk mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan eksternal yang cepat berubah, terutama adanya disrupsi teknologi.
  2. Dunia semakin tanpa batas sehingga kombinasi tenaga kerja di suatu perusahaan tingkat keragamannya akan semakin tinggi, tidak hanya terdiri dari berbagai daerah namun berbagai negara dengan latar belakang budaya yang berbeda.
  3. Perkembangan teknologi informasi merubah interaksi antar individu, kelompok maupun organisasi sehingga diperlukan tatanan dan etika baru dalam berinteraksi di era teknologi informasi ini.
Hal-hal yang disampaika di atas menjelaskan bahwa perubahan lingkungan organisasi, baik internal maupun eksternal, akan menjadikan cara pengelolaan organisasi mengalami perubahan.  Konsekuensinya, para pimpinan organisasi harus menyesuaikan gaya kepemimpinannya supaya organisasi dapat bertahan dan terus berkembang.

0 comments

Subscribe to Our Newsletter